Cinta Pertama di Persimpangan Takdir Jodoh - Permohonan Maaf yang Belum Terjawab

Main Pic - Cinta Pertama

Yabdhi.com – Menuliskan kisah cinta pertama masa lalu adalah hal berisiko, jika itu bukanlah kisah dengan orang yang kini menjadi pasangan sah. Namun aku tetap tergelitik untuk menuliskan romansa sejak masa kecilku ketika mengenal rasa suka pada lawan jenis hingga akhirnya menemukan jodoh sebenarnya.

Mungkin ini analogis dengan Buya Hamka yang menuliskan gelora masa mudanya dalam novel-novel romansa percintaan muda-mudi, semisal novel “Di Bawah Lindungan Ka’bah“.

Di kelas 2 SMP (di SMP Negeri 3 Prabumulih, Sumatera Selatan pada Tahun 1996), aku rajin mengunjungi Perpustakaan Sekolah. Tapi bukan untuk membaca buku pelajaran, karena tentu itu membosankan dan aku bukanlah orang yang tahan berlama-lama membaca buku pelajaran. Melainkan aku mencari buku-buku novel atau sejarah heroisme tokoh-tokoh semisal Gajah Mada, Pangeran Diponegoro, dan lain sebagainya.

Aku menyukai kisah heroisme perjuangan para pahlawan dan orang-orang besar, sehingga mataku tertuju pada sebuah novel berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck“. Kukira itu adalah buku tentang perang para pahlawan melawan penjajah hingga berhasil mengalahkan kapal perang Belanda. Namun saat kubaca, ternyata itu adalah novel percintaan.

Novel karya Buya Hamka itu membuatku terpesona akan gaya bahasa dan luapan emosi percintaannya, yakni, kisah cinta Zainuddin dan Hayati yang mengharu biru. Namun aku lebih perfokus pada kisah-kisah awalnya saja, saat Zainuddin dan Hayati pertama kali jatuh cinta. Itu adalah suasana yang indah tentang makna cinta untuk dibayangkan.

Membaca novel itu membuatku mengerti seperti apa rasa cinta yang bersih dari kemesuman. Kekaguman pada mahakarya ciptaan Tuhan bukan karena nafsu birahi belaka. Kecintaan yang membius sepasang muda-mudi hingga aku yang membacanya juga merasa terbius oleh kisah itu.

Masa SMP

Pujian yang Membuatku Mengenalnya

Tak berselang waktu lama dari membaca novel itu di perpustakaan, tiba di pelajaran sejarah yang diajarkan oleh sang Guru favoritku, Bu Murwaning Sri (red: Bu Ning). Saya lupa tepatnya karena alasan tertentu, Bu Ning menggabungkan kelasku (kelas 2.5) dengan kelas lain (jika tidak salah kelas 2.2 atau 2.1).

Saat akan memulai pelajaran, seperti biasa Bu Ning menyapa siswanya, dan matanya berhenti pada sosok gadis cantik berkulit putih. Lalu dia berkata “sepertinya ada yang baru potong rambut, duuuh ndook.. cantiknya kamu, saya terpesona dengan kecantikan dan keanggunanmu. Kamu Cantiiik sekalii!

Seperti itulah Bu Ning. Dia suka memberi kesan spesifik pada tiap siswa. Aku pun pernah mendapat pujian spesifik itu dari Beliau yang ku ceritakan pada kisah Mengenang Bu Murwaningsri.

Namun siang itu adalah untuk siswi cantik berkulit putih dengan rambut lurus agak kekuningan itu. Bu Ning berkali-kali memuji kecantikannya. Mungkin aku adalah salah satu dari yang terpengaruh karena pujian itu. Aku jadi berkali-kali menoleh ke belakang, untuk melihat si gadis cantik itu.

Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama

Dalam hati aku bergumam. “Ya.. dia memang cantik sekali, seperti bidadari, kulitnya putih bersih, wajahnya panjang, alisnya hitam tipis, rambutnya lurus tergerai berwarna hitam agak kekuningan, senyumnya indah dengan bibir merah muda yang agak tebal, dia seperti blasteran Eropa Indonesia.” Dalam bayangan saat ini, dia seperti ‘Rose‘ di film Titanic, atau Kate Winslet di masa mudanya.

Kate Winslet di usia muda

Ooh Boy.. itulah pertama kalinya aku benar-benar mengagumi kecantikan anak perempuan, karena kecantikan dan sikap anggunnya. Dia tidak seperti meninggi karena dipuji. Mungkin karena dia telah sering menerima pujian semisal itu.

“Jika aku Zainuddin, mungkin kah dia Hayati-nya?” benakku berkata. Alangkah senangnya jika jodohku kelak secantik gadis itu.

Pujian Bu Ning itu begitu berkesan, hingga raut wajah segar berseri siswi cantik itu pun jadi lekat di ingatanku. Setiap iring-iringan pulang menuju gerbang sekolah, mataku mencari-cari siswi berambut panjang lurus kekuningan itu, jika terlihat aku berusaha mendahuluinya agar aku bisa melihat wajah cantiknya. aku juga jadi sering berada di depan kelasnya saat jam istirahat, hanya untuk melihatnya.

Kejadian itu berlalu, dan aku tak ditakdirkan sekelas dengannya di kelas 3 SMP. Aku hanya mengagumi kecantikannya, tidak pernah berbicara padanya, juga tidak pernah berusaha menjadi teman dekatnya.

Di kelas 3 SMP, aku sudah agak melupakan kekaguman itu. Karena itu seperti pungguk melihat bulan. buat apa menghabiskan waktu mengagumi wanita. Cukup menjadi kenangan, sebagai wanita pertama yang kukagumi kecantikan dan sikap anggunnya. Aku tak pernah mengungkap kesukaanku pada gadis itu, juga pada siapapun karena aku terlalu pemalu.

Bertemu Kembali di SMA

Saat telah memasuki usia SMA, aku diterima di SMA Negeri 2 Prabumulih karena nilai NEM-ku hanya lebih tinggi 0,5 dari standar batas yang diterima. Aku diletakkan di kelas 1.5 karena mendaftar di hari terakhir.

Aku telah benar-benar melupakan kekagumanku pada siswi SMP itu. Hingga pikiranku kosong dari rasa suka pada wanita tertentu. Namun suasana itu seketika berubah, karena mungkin sekitar sebulan setelah mulai masa belajar di SMA, ada dua orang siswa baru yang masuk di kelas 1.5.

Salah satu dari dua siswa tersebut adalah gadis yang kukagumi di SMP itu, sedangkan yang satu lagi adalah siswa berperawakan kecil sepertiku, sehingga langsung diminta guru untuk jadi teman sebangku denganku. Belakangan baru kuketahui bahwa kedua orang itu ternyata punya hubungan sepupu.

Masih kuingat saat dia diperkenalkan, berdiri di depan kelas dengan tas selempang di bahunya. Kemudian dia berjalan malu-malu menuju kursinya di sisi belakang melewati lorong tengah tepat disebelahku. Aku menatapnya lekat tak lepas hingga dia duduk dikursinya.

“Ooh Tuhan.. Dia kini sekelas denganku. Aku akan jatuh cinta pada gadis ini.” Begitu benakku berkata, saat memandangnya berjalan hingga duduk.

Tubuhku yang kecil, membuatku selalu ditempatkan di kursi depan. Sedang siswi yang kukagumi keanggunannya itu berada di belakang. Itu hampir persis seperti posisi duduk saat Bu Ning memuji kecantikannya di SMP dulu.

Deklarasi pada Diri Sendiri, Aku Menyukainya

Lalu hari-hariku dipenuhi dengan kesukaan pada gadis cantik berkulit putih itu. Aku mengingat deklarasi pertamaku pada diri sendiri tentang kesukaanku padanya.

Di jam istirahat, aku duduk sendiri di pagar beton taman di depan kelas 1.5. Aku berkata pada diriku sendiri, “Jika aku ingin mengingat kapan aku benar-benar menyukai dia, maka itu adalah hari ini. Mungkin aku tak layak baginya, tapi inilah hari dimana aku benar-benar menginginkan dia menjadi pasanganku kelak.” Sayangnya aku lupa hari dan tanggalnya. Tapi itu mungkin sekitar akhir tahun 1997.

Memendam Rasa dan Kerinduan

Aku senang, tapi juga tersiksa. Karena tidak punya cukup keberanian mengungkapkan rasa suka padanya. Juga tentu tidak punya keberanian untuk mengajaknya jadi pacarku, karena aku adalah orang yang tidak percaya diri dan lusuh, hingga aku hanya jadi seperti “Pungguk Merindukan Bulan“.

Hingga kelas 2 SMA, hari-hariku adalah mencuri pandang pada wajah cantiknya, keanggunan gaya jalannya, senyumnya yang manis merona, dan suaranya yang unik agak serak basah.

Di kelas 2, Saat jam istirahat, aku jadi sering duduk di depan kelasnya, karena kami berada di kelas yang berbeda. Aku begitu senang dan berdebar-debar jika dia ikut duduk-duduk di taman depan kelas.

Berada di dekatnya membuat jantungku berdebar-debar. Jika bertemu mata, aku takut sekaligus senang. Dia tak pernah terlihat berpacaran dengan teman siswa di SMA-ku, sehingga membuat harapanku tetap terjaga.

Beberapa temanku juga kuketahui menyukainya. Tapi sama sepertiku, mereka hanya bisa mengagumi dan tidak berani mengungkapkannya. Terus demikian hingga kelas 3 SMA.

Rasa Cinta yang Tak ku Fahami

Kondisi itu membuatku tak dapat menyukai gadis lain. Padahal banyak gadis yang juga cantik dan anggun sikapnya. Kekagumanku pada sikap anggunnya yang tidak pernah terlihat tertawa terbahak-bahak atau menjerit-jerit kegirangan, telah menutup mataku dari wanita-wanita lain.

Malam-malam sebelum tidurku dipenuhi hayalan tentang dia. Hayalan nun jauh ke masa depan, bahwa kelak aku akan menikah dengannya.

Ada banyak gadis cantik di SMA-ku, bahkan seperti artis-artis. Namun bagiku hanya dia yang paling menawan, anggun mempesona dan terindah senyumnya. Aku dimabuk cinta, semua tentangnya adalah candu yang membuatku melayang.

Rasa sukaku padanya tak kufahami, karena terasa rumit dan berbeda dengan rasa suka pada lawan jenis karena birahi seksual remaja yang memang sedang meningkat di usia SMA.

Itu adalah rasa suka yang murni ingin memperlakukannya seperti putri anggun yang suci. Seperti berlian yang tidak boleh disentuh, agar kilaunya tak rusak karena kotornya tangan manusia. Dulu aku memahami itu sebagai cinta sejati yang suci, bukan rasa suka karena nafsu yang hina.

Memberanikan Diri Mengungkap Rasa Suka

Di kelas 2 SMA, kami terpisah kelas. Namun di kelas 3, kembali satu kelas. Sehingga suasana kelas 3 itu membuatku exciting tiap hari. Aku senang berada di kelas karena bisa memandanginya tiap saat.

Tidak bisa terus bertahan memendam rasa suka itu, aku mulai berani mengungkapkan dengan bercanda. Entah mengapa aku menjadi sedikit percaya diri.

Aku sering bercanda mengungkapkan rasa suka dengan menyebutnya “Istriku“. Aku tak tahu bagaimana perasaannya saat sering kusebut istriku, namun aku tak peduli walau mungkin dia merasa jijik dengan kelakuanku.

Yang kutahu, dia tersenyum lebar dengan tatapan mata indahnya setiap kupanggil dia istriku. Aku yakin dia telah mengetahui isi hatiku, walau mungkin dia tidak memiliki getaran yang sama dengan apa yang aku rasakan.

Hingga lekat diingatanku, cara jalannya, senyum manisnya, suara seraknya, rambut panjang lurusnya yang tergerai, wajah panjangnya yang seperti bule, dan sikap manisnya. Aku bahkan menggambar wajahnya di buku harianku.

Saat jam istirahat, aku berusaha berada di dekatnya. Mendengar suaranya seperti melodi indah lagu-lagu romantis. Jika dia berbicara padaku, aku jadi salah tingkah dan kikuk.

Aku sering datang lebih pagi untuk menunggu kedatangannya, sehingga aku bisa melihatnya berjalan di koridor teras di depan kantor guru hingga sampai di kelas. Lalu kusapa dia, “hai istriku“. Dia tersenyum lebar dan sesekali memukul lembut bahuku, karena percandaan yang berulang-ulang itu.

Aku Berguna Baginya

Bisa membantunya dalam hal pelajaran adalah hal yang paling menyenangkan bagiku. Karena aku merasa bisa berguna baginya.

Hal yang kuingat, dia pernah diminta oleh guru bahasa inggris untuk menjawab soal ke depan kelas, tapi dia tidak bangkit dari kursinya. Tak lama, datang segumpal kertas ke mejaku, yang dikirim secara estafet oleh teman-teman dari mejanya. Rupanya itu adalah permohonan minta tolong “Yan tolong, kasih tahu jawabannya“.

Aku tersenyum membaca tulisan itu, aku merasa beguna baginya, kupandang wajahnya yang memelas melihat padaku. Lalu kutulis jawaban soal di balik kertas itu, dan kukirim kembali secara estafet. Setelah menerima kertas itu, barulah dia bangkit dari kursinya menuju papan tulis. Aku merasa bangga karena dia membutuhkan aku.

Saat ada PR matematika, Fisika atau Kimia, aku bersemangat mengerjakannya di rumah, dan datang lebih pagi. Aku sangat senang jika dia mencontek PR ku. Setiap interaksi dengannya begitu berharga di benakku saat itu.

Dia Punya Pacar di Sekolah Lain

Saat aku sering memanggilnya ‘istriku‘, teman-teman memberitahuku bahwa dia sudah punya pacar dari sekolah lain. Itu membuatku sedih, tapi tetap kusembunyikan. Kujawab saja “Ya dia bisa saja punya pacar di sekolah lain, tapi disini aku suaminya“.

Aku berusaha untuk tak begitu sedih, karena toh juga pacar bukanlah suami sah. Selalu masih ada peluang bagiku di masa depan untuk benar-benar menjadikannya istriku.

Doa yang Kuulang-ulang

Aku menyadari kesukaanku padanya bukanlah kesukaan yang mesum karena birahi remaja pada lawan jenis. Tapi karena rasa suka yang tulus mengagumi keindahannya dan keanggunan sikapnya yang menawan hati.

Kesadaran itu membuatku sering berdoa seperti ini: “Ya Allah, jika wanita itu baik untuk agamaku, akhiratku dan kehidupan duniaku, maka timbulkanlah rasa suka padaku di hatinya. Dan jika dia tidak baik bagi agamaku, dunia dan akhiratku, maka cabutlah rasa sukaku padanya yang membuatku tersiksa ini”.

Aku tidak merasa bahwa rasa suka itu menghilang dari hatiku hingga aku tamat SMA, bahkan hingga lulus kuliah. Pikiranku tetap tertuju pada gadis itu, hingga aku berharap bisa selalu bertemu dengannya.

Aku sering bertanya sendiri di pikiranku, ‘apakah dia jodohku?’ alangkah senangnya aku jika dia adalah jodohku. Karena telah begitu lama aku menyukainya, dan terus menyukainya meskipun aku telah meminta pada Allah, agar mencabut rasa itu.

Masa Kuliah

Pertemuan setelah Beberapa Tahun Terpisah

Hari perpisahaan sekolah saat tamat SMA adalah hari terakhir aku melihatnya. Itu adalah hari yang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Karena aku tak kan bisa melihatnya lagi setiap hari, dan berbicara dekat dengannya untuk memanggilnya dengan sebutan-sebutan manja seperti di kelas 3 SMA.

Setelah tamat SMA, aku diterima di Universitas Sriwijaya, sekitar 60 km dari Kota Prabumulih ke arah Palembang. Sedangkan gadis itu kuliah di sebuah sekolah tinggi keperawatan di Kota Palembang.

Saat-saat kuliah di UNSRI, aku berusaha melupakannya, walau saat pulang ke Prabumulih, aku selalu berharap dipertemukan dengannya di bis antar kota.

Pertemuan itu benar-benar terjadi, namun hanya sekali saja selama aku kuliah. Saat aku naik bis, aku harus berdiri karena kursi telah habis terisi penumpang. Tiba-tiba dari sebelah kiri suara yang kukenal itu memanggil namaku. Ketika menoleh kekiri, dia tepat disampingku.

Aku girang luar biasa sekaligus berdebar-debar. Sejam perjalanan itu terasa begitu singkat, karena aku terus ngobrol dengannya tanpa henti. Hingga saat sampai di Prabumulih, aku berjalan mengiringinya hingga di pool angkutan desa (angdes) dimana dia menunggu angdesnya tiba.

Kekecewaan Pertama yang Menyakitkan

Aku ingin terus menemaninya hingga dia berangkat naik angdes. Tapi tak dinyana, dia berkata “Eh kita kan udah sampai, duluan lah (pulang), aku gak perlu dijagain”.

Seolah dia risih dengan keberadaanku disana. Aku begitu terpukul dengan kata-kata itu. Lalu aku jawab. “Oh iya ya.. kok aku jadi nungguin kamu. Tapi aku masih ingin ngobrol sama kamu, karena kita sudah lama tidak bertemu”.

“Duluanlah!” katanya dengan raut muka yang mengisyaratkan bahwa dia tidak suka ditemani duduk disana. Aku jadi sedih, dan menjawab “maaf kalau aku mengganggu kamu, aku pulang duluan ya.” lalu aku mengucapkan salam.

That’s it. Pertemuan yang kunanti-nantikan itu berakhir menyakitkan. Raut mukanya yang tidak suka aku berada didekatnya sungguh membuat hatiku terluka. Betapa aku bukan siapa-siapa baginya, padahal dia selalu terngiang di ingatanku bertahun-tahun.

Di zaman itu belum ada handphone, sehingga pertemuan sangat berharga dan sulit terulang. Tidak ada cara untuk berjanji bertemu, karena kami sudah terpisah jarak yang cukup jauh.

Ternyata aku memang bukan siapa-siapa baginya, aku tak pernah menjadi orang yang spesial baginya. Aku saja yang ke-GR-an di kelas 3 SMA karena dia seperti mengiyakan kesukaanku padanya. Aku menyadari bahwa aku telah bertindak bodoh.

Kejadian itu membuatku ingin melupakannya. Apalagi kudengar dia selalu punya pacar. Salah satunya adalah seorang yang lebih tua beberapa tahun dari kami, yang memang perawakannya ganteng, dan atletis. Tak ada harapan, lebih baik aku fokus mengejar masa depan.

Mendapatkan Kontak yang Hilang

Aku mungkin masih mengingat rasa cinta dan harapan pada gadis cantik nan anggun itu di sisa masa kuliahku hingga selesai. Tapi aku tak lagi berharap, karena yang kutahu dia tidak pernah suka padaku.

Siapalah aku ini, hanya lelaki lusuh dan ringkih dari kampung, tak mungkin wanita secantik bidadari akan menyukaiku. Wanita cantik tentu akan jadi rebutan para lelaki gagah lagi kaya raya, dan dia tentu layak untuk mendapatkan lelaki yang demikian, seperti kebanyakan wanita cantik lainnya.

Di tahun akhir kuliah, aku telah bisa membeli hp dari hasil mengajar bimbel dan menjadi guru honor di SMA Negeri 2 Tanjung Raja. Sehingga aku bisa terhubung dengan teman-teman SMA kembali. Lalu seorang teman dekat memberiku nomor HP gadis pujaanku itu. Aku cukup senang, walau tak lagi begitu berharap.

Aku jadi bisa berkirim sms dengannya, menanya kabar dan lain sebagainya. Namun sms-ku lebih sering tak dibalas, hingga aku berputus asa menghubunginya. Aku merasa melakukan kebodohan lagi, berharap dia mempedulikan aku, padahal sudah jelas dia risih padaku.

Masa Kerja

Harapanku Kembali, Komunikasi Terjalin Intens

Setelah lulus kuliah, aku diterima bekerja pada suatu perusahaan swasta di Jakarta dan aku mendapat fasilitas telepon Halo pascabayar dari kantor. Sehingga aku bisa bebas menelpon kapan pun tanpa khawatir kehabisan pulsa, walau aku harus menanggung biaya telpon yang tidak berkaitan dengan pekerjaan.

Aku kembali mencoba menghubungi wanita idamanku itu. Ternyata mendapat respon yang lebih baik, bahkan komunikasi itu jadi makin intens.

Tak terbendung, karena sering menelpon dia, tagihan telponku hingga mencapai lebih dari Rp 800 ribu pada bulan pertama, kemudian sekitar Rp 600 ribuan di bulan selanjutnya. Namun itu kuanggap jumlah yang kecil, karena jika harus bertemu ongkos pulang tentu akan lebih besar dari itu.

Harapan itu kembali membuncah. Karena dia tak lagi cuek padaku. Aku pun lupa, apa saja yang kami bahas di telpon, hingga berjam-jam. Jika dia membaca kisah ini, mungkin dia akan ingat apa saja yang kami bahas, tapi aku benar-benar lupa.

Tanggapannya yang tak pernah membuatku lama menunggu dia mengangkat telponku, pembicaraan yang panjang lebar dan penuh penerimaan, kuanggap sebagai kode bahwa aku telah berada di hatinya. Aku merasa begitu bahagia saat itu. Karena mimpi-mimpi ku saat SMA untuk menikah dengannya berpeluang menjadi kenyataan.

Kami berjanji bertemu, jika aku pulang kampung ke Prabumulih. Aku begitu menanti-nanti saat pulang, karena akan kembali melihat gadis impianku.

Pertemuan di Acara Karnaval

Singkat cerita, aku bisa pulang kampung di bulan Agustus 2006, karena itu bertepatan dengan acara karnaval HUT RI di Prabumulih. Kami berjanji bertemu di acara karnaval itu, di sore hari saat acara itu sudah akan selesai.

Dia sedang bersama beberapa temannya saat bertemu. Namun kami sempat berbicara berdua saja. Aku tidak bisa membendung untuk mengungkapkan niat bahwa ingin menjadi pasangan hidupnya.

Ditolak, Berhenti Berharap!

Tak kuduga, ternyata jawabannya kembali membuatku sangat kecewa. dia berkata “Kita temenan saja, karena sebenarnya aku sudah punya calon suami“.

Aku merasa seperti kena tipu muslihat yang luar biasa. Tulang-tulangku terasa lemas seperti akan runtuh. Dadaku terasa sesak berkecamuk, antara rasa kecewa yang sangat besar dan rasa malu.

Aku seperti mengalami apa yang dirasakan Zainuddin saat mengetahui bahwa Hayati telah menikah dengan lelaki lain yang lebih gagah, berharta dan bermartabat. Sedangkan aku hanya lelaki miskin lusuh yang hanya memiliki harapan dan rasa cinta.

Aku ingin marah, namun tentu aku tak sanggup untuk marah. Mengapa dia seolah memberiku harapan dengan berkomunikasi intens melalui sms dan telpon, berjanji bertemu hingga aku memaksakan diri pulang kampung, padahal dia sudah punya calon suami. Aku merasa telah dipermainkan, dengan kekejaman yang tak menimbang rasa hatiku.

Mengucapkan Selamat Tinggal

Aku tertunduk lesu, punah sudah harapanku. Lalu aku segera ingin pulang dan kukatakan dengan jelas padanya. “Mungkin ini pertemuan terakhir kita, aku tak akan menganggumu lagi, ini adalah ucapan 'Selamat Tinggal', semoga kamu bahagia dengan calon suamimu”.

Dia menjawab: “Mengapa berkata begitu? Kita sudah lama berteman, kita akan tetap menjadi teman dekat, teman baik. Jangan segan kabari aku jika kamu pulang kampung lagi. Nanti kita ketemuan lagi, bisa sekalian ketemu sama teman-teman yang lain.”

Serasa ingin menangis, tapi aku adalah lelaki yang tak boleh menangis karena wanita. Toh masih banyak wanita di dunia ini. Aku pulang dengan kekecewaan yang sangat besar, bercampur malu yang berkecamuk di dadaku, karena aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri.

Setelah menyebarang jalan, aku ingin melihatnya untuk terakhir kali. Dengan wajah datar penuh kesedihan aku memandangnya yang tersenyum lebar melambaikan tangan padaku. Aku hancur dan hatiku telah terluka setelah mengetahui bahwa aku telah tertipu oleh perasaanku sendiri.

Aku seolah mengalami apa yang dialami Zainuddin, ketika ia mengungkapkan cintanya pada Hayati di Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Karena Hayati berkata bahwa dia tidak bisa menerima cinta Zainuddin. Zainuddin seakan kehilangan harapan dan terduduk sendu, seraya berkata: “Hayati, kau patahkan harapan hidupku“.

Ternyata aku hanyalah teman baik untuk mendengarkan curhat-curhatnya. Tempat dia meminta nasihat karena aku dinilainya sebagai orang yang cerdas. Lagi-lagi aku merasa telah melakukan hal bodoh yang kesekian kalinya, karena terlalu berharap.

Saat itulah dimana aku mulai berusaha keras untuk menghilangkan getaran cinta yang dulu di awal mengenalnya kemudian mendambanya. Aku benar-benar ingin menutup buku cinta pertama itu hingga benar-benar habis tak berbekas. Karena kurasa sudah tidak mungkin mendapatkannya. Dia selalu di hatiku, namun aku tak pernah di hatinya. Adalah kebodohan besar jika aku mengulangi harapan itu lagi.



Mencari Jodoh

Kejadian pertemuan di acara karnaval itu kuanggap sebagai hari bersejarah pupusnya harapanku pada cinta pertama. Aku harus membunuh perasaan cinta padanya hingga benar-benar mati, agar aku tak kan berharap lagi padanya.

Kalaupun menjadi kenangan, biarlah ia menjadi kenangan saja. Kenangan yang pahit karena cinta yang tak pernah berbalas. Kenangan rasa malu, karena merasa melakukan kebodohan berkali-kali.

Terbiasa Ditolak

Aku ingin segera move-on, dengan mencari jodoh. Ku coba dekati salah seorang teman yang kukenal cukup baik, walau aku tak memiliki getar suka padanya sebelumnya. Dia seolah memberi harapan dengan komunikasi yang intens, namun lagi-lagi itu seperti harapan palsu. Karena saat ku ajak serius dengan bertemu, dia menolak untuk bertemu. Maka langsung ku tutup harapanku padanya.

Penolakan kedua itu membuat aku berfikir, seperti apa sebenarnya wanita yang kuinginkan jadi pasangan hidup. Kepalang bermimpi, mengapa aku tak bermimpi bahwa pasanganku secantik publik figur.

Lalu aku Mencari di jejaring sosial Friendster sosok yang kubayangkan akan sangat kusukai dari segi penampilannya sebagaimana sosok publik figur. Kudapatkan profile 2 gadis alumni UNSRI yang aku tertarik, lalu ku kirim pesan di inbox Friendster dengan kata-kata bahwa aku ingin mengenal mereka lebih dekat. Namun pesanku itu tidak mendapat tanggapan. Hal itu ku anggap hal yang sia-sia dan segera kutinggalkan.

Dalam masa itu, sempat juga kupertimbangkan salah seorang sahabat dekatku yang kuanggap sehabat sejati karena telah dekat begaul sejak SMP, SMA hingga saat itu. Namun aku tidak benar-benar memiliki hati padanya karena aku telah dibutakan cinta pada gadis cinta pertamaku. Aku takut menyakiti hatinya jika ternyata kami tak berjodoh, sehingga aku tidak jadi mengungkapkan niatku pada sahabatku itu.

Masa kekosongan harapan itu berlangsung hingga hampir 2 tahun, hingga aku telah pindah kerja ke Riau.

Di tempat kerja baru itu, aku kembali mencoba mendekati salah seorang junior. Seorang wanita keturunan tionghoa muslim yang ku pikir bisa kusukai. Aku coba mendekatinya dan mendapat tanggapan yang ramah. Aku mulai berharap padanya, namun tak butuh waktu lama ajakanku untuk menjalin hubungan serius ditolaknya dengan jelas walau dengan bahasa yang halus. Dia mengatakan hanya ingin berteman denganku. Maka bertambah lah daftar wanita yang menolak ku.

Tak kunjung mendapatkan calon istri, aku merasa cukup galau. Hingga terpikir, siapapun yang menerimaku akan ku nikahi, karena ternyata memang aku sulit menemukan orang yang kusukai, akan menyukaiku juga.

Dalam kegalauanku aku berkata: “Ya Allah, siapakah jodohku?



Dia Kembali padaku

Saat kegalauan melanda jiwaku dan harapan pada cinta pertamaku telah lama hendak ku lupakan hingga hampir tak bersisa. Setelah sekitar 2 tahun dari pupusnya harapanku pada cinta pertama itu, tiba-tiba si gadis pujaan masa SMA itu kembali menghubungiku, dia menanyakan kabarku.

Tentu aku menanggapinya dengan segera, walau aku tak ingin lagi berharap. Karena ada trauma rasa sakit yang luar biasa atas penolakannya dan rasa malu dalam dadaku tentangnya.

Tak dinyana, dia minta bertemu denganku. Ada banyak yang ingin dia ceritakan padaku. Dia begitu bersemangat menanyakan kapan aku pulang kampung.

Di awal tahun 2008 kami kembali bertemu, kami makan di sebuah rumah makan lesehan di ujung kota Prabumulih arah ke Palembang. Rupanya dia ingin menceritakan kesedihannya, karena telah ditinggal nikah oleh kekasihnya. Dia menangis menceritakan hal itu padaku.

Aku hanya bisa berusaha menenangkannya dengan kata-kata standar, karena aku tidak bisa lagi berempati padanya tentang hal itu. Apalagi teringat dia dulu menolakku karena pacarnya tersebut.

Orang Tuaku Menyukainya

Tak kusangka, pulang dari makan siang itu, dia langsung mengajakku pulang ke rumahku. Karena dia ingin bertemu dengan kedua orang tuaku. Aku cukup kaget, karena itu artinya dia serius denganku. Sepertinya aku telah menjadi harapan terakhirnya, setelah semua kekasihnya meninggalkan dia.

Mulanya aku menolak, kukatakan aku belum siap, karena belum mengabari kedua orang tuaku. Aku merasa cukup kapok berharap padanya. Tapi dia memaksa, hingga aku tak berdaya mengikuti keinginannya.

Bertemulah dia dengan Ayah dan Ibuku. Karena kami satu daerah dan menggunakan bahasa daerah yang sama, maka Ibuku langsung menyukainya. Ibuku memujinya setelah dia kuantar pulang kerumahnya. Ibuku berkata: “Cantik dia, pintar kamu cari calon istri, orangnya sepertinya menyenangkan dan ramah”.

Ayahku juga menyukainya, karena saat ngobrol Ayah menanyakan siapa orang tuanya. Ternyata Ayahku sangat mengenal keluarganya. Ayahnya adalah tokoh besar masyarakat desanya, keluarganya dikenal baik dan berpengaruh, karena Ayahnya adalah seorang pemimpin Desa di zamannya.

Saat mengantarnya pulang ke rumahnya, dia memintaku menemui orang tuanya. Namun aku merasa belum siap, aku menolak untuk masuk kerumahnya, dengan alasan sudah terlalu sore, nanti kelamaan ngobrol aku kemalaman. Apalagi rumahnya cukup jauh masuk ke pelosok, aku takut salah jalan atau mendapat kemalangan kena begal.

Sepakat, Kita Menikah!

Beberapa hari setelah pertemuan itu, kami intens bertemu setiap hari, hingga aku kembali ke Riau. Dalam beberapa hari itu, aku menjemputnya, makan siang, hingga mengantarnya ke apotek untuk membeli obat yang akan dia gunakan untuk mengobati orang-orang sakit di desanya.

Dalam pembicaraan yang intens itu, dia mengutarakan keinginannya untuk menerima tawaranku dulu. Dia mau menikah denganku. Itu semestinya adalah keberhasilan selayaknya Zainuddin yang akhirnya berhasil mendapatkan cinta Hayati. Yakni saat Zainuddin mengatakan “Oh Hayati, kau kembalikan jiwaku” ketika Hayati mengatakan bahwa ia bersedia menerima cinta Zainuddin, setelah sebelumnya pura-pura menolak.

Namun aku merasa telah banyak berkurang getaran itu. Tak sekuat dulu saat aku menggebu-gebu mengejarnya. Entah mengapa rasa sakit ditolak dulu masih membekas. Apalagi saat sering bertemu dan makan siang bersama, dia selalu curhat tentang pacar-pacarnya yang telah meninggalkannya. Seolah aku memang hanyalah pelarian dari kegagalan cintanya.

Tapi aku mengiyakan penerimaannya padaku. Aku mengatakan ‘OK kita akan menikah‘. Karena aku juga selalu gagal dan ditolak saat mencari calon istri selama ini. Dia akhirnya bersedia menerimaku, setelah sekitar 10 tahun lebih sejak pertama kali aku menyatakan pada diri sendiri (di kelas 1 SMA), bahwa aku benar-benar menyukai dia, dan setelah dia menolakku pada Agustus 2006.

Aku Kekasihmu, dan Kau Kekasihku

Dia terlihat kembali ceria, walau beberapa saat dia kembali seperti dirundung duka karena menceritakan mantan-mantan pacarnya yang telah meninggalkannya.

Namun dia telah mengubah panggilannya padaku dengan kata ‘Sayang‘, dan aku pun demikian. Dalam pembicaraan telpon, kami sering membahas rencana menikah. Dia jadi lebih manja padaku dan seperti membanggakan aku pada teman-temannya.

Dia membelikan aku sebuah baju kemeja berwarna coklat kekuningan bermotif klasik. Ukuran baju itu begitu pas dengan tubuhku, walau aku tak ikut membelinya. Masih kuingat kainnya lembut dan langsung nyaman dipakai. Padahal jika aku membeli baju sendiri, sering kebesaran dan kainnya sering tidak nyaman, karena aku tak pandai memilih pakaian. Dia telah menunjukkan perhatiannya yang besar kepadaku.

Itu adalah saat-saat aku merasa benar-benar punya kekasih, seorang calon istri, wanita yang kukagumi kecantikan dan sikapnya sejak SMP, kuidamkan sejak kelas 1 SMA, serta selalu terngiang-ngian di ingatanku saat aku kuliah dan bekerja hingga momen dia menolakku di Agustus 2006.

Bimbang antara Cinta, Prasangka dan Logika

Komunikasi berjalan intens. Aku ingin membahas masa depan, namun dia lebih sering membahas masa lalunya, kesedihannya ditinggal nikah oleh pacar-pacarnya. Di satu sisi aku kasihan padanya, tapi disisi lain, aku merasa bahwa aku hanyalah pelarian baginya, karena cintanya gagal dengan lelakinya sebelum aku.

Pergulatan itu memenuhi pikiranku. Aku mulai mencoba keluar dari emosi kecintaan masa lalu padanya untuk menimbang-nimbang rencana menikahinya dengan akal sehat.

Apakah benar aku ternyata hanyalah pelarian atas kegagalan cintanya. Akankah dia melupakan pacar-pacarnya yang gagah, cakep dan perlente, sementara aku hanyalah lelaki kampung yang kurus ringkih, bermuka kusut, dan tidaklah beruntung secara ekonomi.

Apakah nantinya dia tidak akan terus mengenang pacar-pacarnya. Karena curhatannya tentang pacar-pacarnya itu terus kudengar. Aku adalah kekasihnya, calon suaminya, tapi aku tetap merasa cemburu pada mantan-mantan pacarnya yang tampan.

Mengapa itu terjadi, mengapa dia kembali di saat yang tidak tepat? Mengapa saat aku mendambanya, dia menolakku dengan alasan ada lelaki lain, namun saat dia telah bisa menerimaku, perasaanku padanya tidaklah seperti dulu lagi, karena aku telah berusaha keras melupakan harapanku padanya.

Lalu kuputuskan mengulang-ulang doa ku dulu saat SMA, agar Allah membantuku membuat keputusan. Jika dia baik bagi masa depanku, maka kuatkanlah rasa cinta kami, namun jika dia tidak baik bagiku, maka hilangkan lah rasa sukaku padanya.

Aku terus menimbang-nimbang sembari terus berdoa, yang pada akhirnya aku merasa kehilangan chemistry dengannya. Jika dulu aku merasa begitu mendambakannya, tapi saat itu aku merasa tidak lagi seperti dulu. Aku tetap merasa bukan siapa-siapa baginya. Aku hanyalah pelarian yang tidak pernah benar-benar ia cintai.

Keputusanku

Walau dengan berat hati, akhirnya aku membuat keputusan bahwa dia sebenarnya tidak akan bahagia denganku. Aku dulu hanya lah pengagumnya yang bertepuk sebelah tangan, sedangkan hatinya telah pernah berlabuh ke banyak lelaki lain yang mungkin salah satunya adalah cinta sejati baginya. Aku sebenarnya tidak pernah benar-benar ada di hatinya.

Rencana menikahinya harus ku hentikan apapun kondisinya. Karena yang dipertaruhkan adalah masa depanku dan masa depan dia. Jika ternyata kami tidak berjodoh, kalaupun menikah, maka pernikahan itu berpotensi bermasalah bahkan gagal. Itu adalah buang-buang waktu.

Logikaku telah mengalahkan emosi kecintaanku padanya. Aku tidak lagi menjadi Zainuddin di kisah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, yang seakan tidak bisa hidup tanpa Hayati.

Maaf aku tak bisa melanjutkan rencana pernikahan kita“, begitu kusampaikan padanya lewat telpon. Dia kaget, marah dan tentu menangis. Aku menjadi pacarnya yang kesekian kali membatalkan rencana menikah dengannya.

Dia bahkan mengancam ‘ingin bunuh diri’, karena terus gagal membina hubungan hingga ke pernikahan. Aku terus berusaha menjelaskan mengenai keputusanku padanya, Namun dia begitu marah padaku hingga akhirnya dia memblokir telponku.

Hingga kisah ini kutulis, tidak ada lagi komunikasiku dengannya, dia menghilang dariku. Aku sempat khawatir jika dia benar-benar bunuh diri.

Aku Pemberi Harapan Palsu (PHP)

“Pemberi Harapan Palsu”, begitu julukanku yang kudengar dari teman-temannya yang juga adalah teman-temanku. Karena ternyata dia telah menceritakan rencana kami untuk menikah pada teman-teman. Tentu dia akan curhat pada mereka tentang kekejaman penolakanku. Aku tak tahu, mungkin aku menjadi sosok antagonis di kisah ini dalam versi mereka.

Sampai di situ, berakhir sudah kisah cintaku dengan gadis putih, cantik nan anggun itu. Dia telah menolakku, lalu menerimaku di saat aku ternyata tidak lagi terhanyut oleh emosi kekagumanku padanya.

Jadi ini bukan kisah cinta cinderalella yang berakhir bahagia lalu bersatu dalam pernikahan yang kekal. Kisah cinta pertama ini berakhir duka baginya karena pupusnya rasa cintaku padanya, pada saat dia telah menerimaku. Cinta pertamaku bukanlah jodohku, walau aku merasa itu pernah begitu dalam mengisi hari-hariku selama sekitar 12 tahun.

Yang ingin Kusampaikan Padanya

Jika dia membaca kisah ini, sekali lagi “aku ingin memohon maaf atas kesalahanku“.

Aku mengakui, bahwa aku salah telah memberimu harapan bahwa aku akan menikah denganmu. Padahal aku telah menjadi ragu pada rasa cintaku padamu, karena pernah merasa putus harapan atas penolakanmu dulu. Aku tetap berprasangka bahwa kamu tidak pernah benar-benar mencintaiku, karena telah terbentuk dalam pikiran ku bahwa aku bukanlah pria yang kau impikan.

Kamu tidak bersalah sama sekali dalam kisah ini. Kisah pilu yang telah menjadi salah satu babak kehidupan kita. Akulah yang bersalah telah mencintaimu lalu mengejar cintamu. Akulah yang bersalah telah menerima saat engkau ingin kembali padaku, padahal aku telah berusaha mengikis rasa itu sejak engkau menolak ku 2 tahun sebelumnya.

Tapi aku yakin, semua itu terjadi karena takdir Allah. Bukan semata-mata karena kehendak kita, melainkan karena telah digariskan bahwa jodoh kita berbeda. Apapun yang kuputuskan saat itu, tak akan mampu melawan takdir itu. Hidup mengalir sesuai kehendak Allah, bukan sesuai keinginan kita.

Walau kita telah menjalani hidup masing-masing, tetap tidak dapat kulupakan bahwa kamu adalah orang yang pernah mengisi relung hatiku yang dalam dan dalam waktu yang tidak singkat. Walau aku telah berusaha melupakan mu, aku tetap tidak akan bisa.

Kamu pernah menjadi bunga di hatiku. Namun hatiku telah menanggung lara karena luka yang sulit terobati, karena yang kurasa adalah bahwa cintaku sejatinya tidak pernah berbalas dari hatimu. Aku adalah lelaki bodoh di masa itu.

Lelaki yang pernah kau harapkan walau sesaat ini telah menjadi luka besar dalam sejarah hidupmu, karena aku menolak mu saat kamu berusaha menerima ku. Aku merasa bersalah untuk itu, walau logika ku mengatakan itu yang terbaik untukmu dan untukku.

Yang kuharap hanyalah bahwa kamu memaafkan ku. Lalu kita menjalani hidup kita masing-masing tanpa dendam dan prasangka.



Inbox Friendster Berbunyi

Aku kembali ke mode kosong dari mencari jodoh setelah selesai dengan kisah cinta pertama, kembali berfokus pada pekerjaan. Gadis pujaan ku telah membenci ku sepenuhnya, yang membuatku merasa bersalah karena telah menjadi luka dalam sejarah hidupnya.

Beberapa bulan setelah kekacauan akibat penolakan ku pada Cinta Pertama itu, dalam perjalanan di bus dari Pangkalan Kerinci ke Duri, untuk menghadiri pernikahan salah satu teman kerja. Ada notifikasi inbox di akun Friendster-ku. Sebuah pesan masuk dari seorang wanita.

Ternyata itu adalah balasan pesan dari seorang gadis alumni UNSRI yang ku ajak berkenalan (salah seorang dari 2 gadis yang kukirim inbox friendster). Pesan itu kukirim pada akhir 2006, sedangkan saat itu sekitar paruh awal tahun 2009. Lebih dari 2 tahun sejak kukirim baru mendapat tanggapan.

Dari jawaban pesan inbox friendster tersebut, komunikasi berlanjut dan kian serius. Tidak banyak drama dan dalam waktu cukup singkat, akhirnya kami menikah di bulan November 2009. Kisah mengenai sampainya jodoh ku tersebut, ku ceritakan dengan detail pada artikel selanjutnya, yaitu: Perjalanan ku Menemukan Jodoh.

Aku menikah sekitar setahun setelah ku sampaikan keputusanku untuk tidak melanjutkan rencana menikah dengan Cinta Pertama itu.



Apa yang terjadi pada gadis cinta pertama itu setelah kutinggalkan?

Setelah kutinggalkan, aku tidak mengetahui apa yang terjadi pada gadis impian masa sekolahku itu. Aku ingin mengetahui, bagaimana dia bangkit dari keterpurukan perasaan dan kekecewaannya padaku, dan bagaimana dia menemukan jodohnya. Semoga suatu saat aku mengetahui kisah bagaimana dia melewatinya.

Sekitar dua tahun dari pernikahanku, tepatnya pada akhir Januari 2012, kudengar kabar bahwa mantan kekasih idamanku itu telah menikah dengan seorang pria yang kukenal.

Lelaki itu berperawakan tinggi dan tampan. Aku mengenalnya sebagai orang yang tidak banyak bicara dan kalem. Bersanding mereka nampak sepadan dan serasi karena wajah mereka ada kemiripan. Wajahnya telah ceria kembali dengan senyum lebar dengan giginya yang indah, pertanda kemurungannya telah sirna.

Aku bersyukur, akhirnya dia menemukan jodohnya yang memang ditakdirkan Allah untuknya. Aku juga bersyukur ternyata dia tidak bunuh diri seperti yang dia ancamkan padaku saat aku sampaikan keputusanku.

Kini kehidupannya telah bahagia dengan suaminya, dia memiliki seorang anak perempuan yang cantik dan lebih mirip suaminya. Aku bersyukur dia berjodoh dengan seorang lelaki yang sepengetahuanku adalah pria yang baik dan berperilaku lembut dalam kesehariannya. Aku tidak mengetahui bagaimana kisah cinta dan pernikahan mereka.

Pada akhirnya, semua berakhir bahagia. Dia menemukan takdir jodohnya yang sesungguhnya, setelah dua kali (sepengetahuan ku) ditinggal nikah kekasihnya (termasuk aku salah satunya). Dan aku menemukan jodohku walau tak banyak drama dan aku sama sekali tidak mengenalnya sejak kecil.

——– END ——–


Hikmah

Kisah ini kutulis pada Februari 2024, sekitar 14 tahun setelah pernikahanku. Sedangkan sejak aku terpesona pada pandangan pertama hingga melepaskan cinta pertamaku terhitung selama 12 tahun.

Artinya masa bahagia dengan istriku telah lebih lama dari masa-masa aku mengidamkan cinta pertama itu. Aku adalah orang yang sudah selesai dengan cinta pertama yang mengharu biru itu. Allah mengabulkan doaku dengan cara yang panjang dan unik, sehingga aku terbebas dari angan-angan masa lalu.

Tentu keromantisan dengan pasangan sah akan lebih banyak dan lebih bermakna ibadah dibanding keromantisan dengan wanita idaman di masa belum dewasa dan masih labil. Apalagi yang kualami bukanlah keromantisan, melainkan kesedihan karena aku lebih banyak bertepuk sebelah tangan. Bahkan hingga dia telah menerimaku, aku masih merasa bahwa hatinya bukan untukku.

Kisah cinta pertama itu hanyalah romansa sorang lelaki lusuh yang mencari jodoh. Kisah ini terasa berharga bagiku, agar aku lebih menghargai pasangan sah sebagai orang yang tulus mencintaiku, agar aku terus jatuh cinta padanya setiap hari. Bahwa ternyata dialah yang paling mengerti aku dan menerimaku apa adanya sejak pertama kali bertemu hingga kini.

Beberapa hikmah yang bisa kuambil dari kisah ini adalah:

  • Hal yang kita sukai belum tentu kita dapatkan.
  • Sekuat apapun kita memperjuangkan hal yang kita inginkan, jika bukan jodoh/rezeki kita, tetap tidak akan menjadi milik kita.
  • Hidup bukan mengalir sesuai keinginan kita, melainkan sesuai takdir Tuhan.
  • Untuk para pemuda, jangan menghabiskan waktu mencintai orang yang belum tentu jodohmu, karena jodoh sudah digariskan.
  • Yang terbaik selalu dari Allah, maka selalu berdo’alah, karena itulah senjata terkuat.


ANALOGI PADA NOVEL TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK

Alur yang mirip namun tidak sama detailnya antara kisah cinta ku vs Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Kisah Cinta PertamakuTenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Jatuh Cinta pada pandangan Pertama: Hanya aku yang jatuh cinta, dia bahkan mungkin mengingat momen itu pun tidak.Zainuddin dan Hayati langsung saling jatuh cinta pada pandangan pertama.
Aku kusut, lusuh dan tidak percaya diri.
Dia seperti bidadari yang bersinar dan dikagumi banyak lelaki.
Zainuddin dan Hayati adalah sosok yang sempurna secara fisik dan akhlaq.
Aku bertahun-tahun memendam rasa dan kerinduan, lalu kuungkapkan hingga kesukaanku padanya tidak lagi menjadi rahasia hatiku sendiri, tapi diketahui semua teman-temanku. Kemudian aku terpisah darinya bertahun-tahun lagi (pada masa kuliah), dan aku tetap merindukannya dan berharap dia jodohku.Zainuddin dan Hayati langsung menyampaikan rasa cinta mereka dan langsung berbalas (walau ada drama penolakan yang akhirnya diterima). Namun kemudian Zainuddin memendam kerinduan dan duka bertahun-tahun karena terpisah dari Hayati yang dijodohkan dengan lelaki lain.
Aku ditolak olehnya karena memang aku bukan orang yang spesial baginya, hanya teman baik biasa yang dia ketahui mencintainya. Sedangkan dia telah punya kekasih yang disebutnya sebagai Calon Suami.Zainuddin ditolak oleh keluarga Hayati karena miskin dan tidak bersuku asli minang.
Aku berfokus pada karir pekerjaan setelah ditolak dan berusaha melupakan dia dengan mencari jodoh walau selalu gagal dan ditolak juga.Zainuddin merantau setelah bangkit dari kesedihannya dan menjadi orang yang lebih baik dan kuat.
Dia berencana menikah dengan kekasihnya dan dengan alasan itu dia menolakku. Namun ternyata dia ditinggal nikah oleh pacarnya, dengan alasan yang saya tidak ketahui.Hayati menikah dibawah perjodohan dengan anak orang kaya, lalu suaminya meninggal karena kebiasaan buruk minum miras dan berjudi.
Dia ingin kembali padaku dan bersedia menerimaku setelah pacarnya meninggalkannya. Dia mulai mnginginkan aku, setelah sebelumnya menolakku.Hayati ingin kembali pada Zainuddin dan meminta Zainuddin menikahinya. Karena cinta Hayati selalu untuk Zainuddin.
Aku menerima dia karena memang masih mencintainya, namun kemudian aku berubah pendirian dan meninggalkannya saat dia ingin kembali. Karena aku tak sabar bahwa dia butuh proses melupakan mantan pacarnya. Aku terbawa perasaan tersakiti saat dulu ditolaknya, dan tetap merasa bahwa sesungguhnya hatinya bukanlah padaku.Zainuddin menolak Hayati karena terbawa perasaan tersakiti oleh penolakan keluarga Hayati yang angkuh dan menilai orang dari harta dan keturunan. (walau sebenarnya Zainuddin masih sangat mencintai Hayati).
Aku ingin melupakannya dan jodohku sampai tak lama setelah putus darinya. Jika sebelumnya aku selalu ditolak wanita, namun jodohku menerimaku tanpa pikir panjang.Zainuddin tersadar bahwa dia harus menerima Hayati. Namun terlambat karena Kapal Van Der Wijck yang ditumpangi Hayati tenggelam dan merenggut nyawanya.
Aku tak berjodoh dengan cinta pertamaku karena memang takdir jodoh kami berbeda. Dia menemukan jodohnya 2 tahun setelah aku menikah. Kami melanjutkan kehidupan masing-masing. Dia telah bahagia dengan keluarganya, dan aku pun berbahagia dengan jodohku.Zainuddin dan Hayati tidak berjodoh karena takdir jodoh mereka berbeda. Hayati meninggal dan Zainuddin melanjutkan kehidupannya.


Komentar Netizen dan Blogger Lain

Artikel ini sebelumnya diterbitkan di platform WordPress, namun saat dimigrasi ke Blogger, semua komentar tidak bisa termigrasi. Oleh karena itu, saya mengcopy semua komentar tersebut menjadi bagian dari artikel ini. Berikut komentar-komentar tersebut:

  1. Kisah menarik nih, Mas. Bisa jadi satu novel nih, menarik juga kisahnya kalau di angkat. Penantian panjang, putus nyambung hubungan, hingga pengambilan keputusan pahit, tentu bukanlah hal yang mudah dijalani.


  2. Sepertinya kaum lelaki sangat sulit melupakan cinta pertamanya, ya? Semoga bahagia dengan istrinya dan bisa mencintai istri lebih dari mencintai cinta pertamanya.


  3. jadi inget kisah cinta monyet aku waktu SMP, cuman bisa mengagumi aja, karena kita sama-sama dari kelas unggulan dan si cowok yang suka sama aku masih adik kelas aku hahaha.
    Aku lulus SMP udah ga pernah ketemu dan komunikasi lagi

    Membaca kisah cinta mas yayan, dramatis juga ya, aku tadi udah mengira kalau endingnya bakalan sama mbak cinta pertama itu, ternyata bukan, dan sebelum menikah juga masih memastikan lagi keyakinan ke diri sendiri, apakah rasa itu masih ada atau engga


    • Alhamdulillah cinta monyetnya mbak Ainun gak berlanjut, hingga tidak menjadi jadi luka dalam karena takdir jodoh yang kini sudah diketahui berbeda.


  4. Pandu Winoto

    Dari kisah ini, menurut saya terkonfirmasi beberapa hal, yaitu:
    – Lelaki memang lebih di-drive logika ketimbang perasaan. Terbukti pada akhirnya logikalah yang menang dalam membuat keputusan akhir, walau terasa pahit oleh perasaan.
    – Begitulah cinta, deritanya tiada akhir. Salah satu keindahan cinta adalah penderitaan menanggung beban perasaan saat mengenangnya.
    – Jodoh adalah takdir, sehingga sudah sedekat apapun dengan seseorang, bahkan sudah berencana menikah, jika tidak jodoh tetap tidak akan jadi.
    – Fitrah manusia untuk mencintai tidak dapat dicegah, dan cinta pertama selalu yang paling dalam membekas di hati manusia.

    Anyway, alur ceritanya terasa indah untuk dibaca, terbayang suasana anak muda yang jatuh cinta dan setia pada harapannya, hingga benar-benar mengetahui cintanya tak berbalas dari hati wanita pujaannya.
    Tadinya saya hanya ingin membaca sekilas dari sub-judul saja, tapi jadi tergoda membaca detail per kalimat. Jika lebih banyak kisah detail dan percakapan, mungkin sebaiknya kisah ini diangkat jadi novel.


    • “Begitulah cinta, deritanya tiada akhir”. Kata-kata Panglima Tian Feng, temennya Sun Go Kong.
      Bener juga yah, ada keindahan dalam mengenang penderitaan cinta.


  5. Ellea Sagita

    Ada yang lucu atau anomali di sini.
    Cinta pertama yang didamba bertahun-tahun dan effortnya besar hingga akhirnya berbalas, ternyata berakhir saat sudah di depan mata, tinggal selangkah lagi berhasil, malah mundur. Kupikir bakalan happy ending nikah, ternyata aah sudahlah.. penonton kecewa berat jika ini film layar lebar.
    Jodoh sebenarnya datang dari usaha yang cuma seperti iseng kirim inbox lalu dilupakan, eh bertahun-tahun kemudian malah jadi jodoh beneran.
    jodoh memang penuh misteri.. Bener sih, kalo dibilang “Hidup berjalan bukan sesuai keinginan kita, tapi sesuai takdir Tuhan”.


  6. Bagiku jodoh emang suprising banget. Kamu diharuskan untuk terus berjalan, tapi kamu tidak tahu bagaimana akhirnya. Seru sihh, meskipun bikin hati…. yaaahhh meraung


  7. Menurutku jodoh itu untuk diperjuangkan sih kak, kalau tidak berusaha didapatkan, ya akan sulit. Kisahnya menarik kak…


  8. Alfarabi

    Salahnya dari awal berharap dia jadi Hayati. “Jika aku Zainuddin, dia kah Hayati-nya?”. Beneran dah endingnya kaya Zainuddin dan Hayati, saling mencintai tapi tidak berjodoh.
    Coba kalo berharapnya kaya Ainun dan Habibi, mungkin berjodoh. Tapi belum ada kisah ainun dan habibi di tahun 90an kan yah.


    • Iya, aku salah berharap. Karena momen jatuh cinta pada pandangan pertama itu, terjadi saat aku belum tuntas membaca Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Baru di awal-awal saat Zainuddin dan Hayati berbalas surat pernyataan cinta yang terasa sangat puitis dan indah.
      Seandainya aku sudah tahu ujung cerita Novel itu, aku takkan pernah berharap kisahku mirip dengan kisah cinta Zainuddin.


  9. Yoana

    Ini kisah nyata kan ya, aku jadi penasaran bagaimana kisah dari persepsi si mbak Cinta Pertama itu. Apakah dia sudah tahu kalau masnya jatuh cinta sejak SMP, bagaimana tanggapan dia saat diidolakan dan dipuja masnya semasa SMA, apa yang terjadi di masa kuliahnya, bagaimana kisah cintanya dengan pacarnya hingga ia ditinggal nikah, dan bagaimana dia melewati hari-hari setelah diputusin masnya yang menceritakan kisah ini??? Ceritanya bakalan keren kalau dari persepsi kedua tokoh utama kisah ini.


  10. Lily Anita

    Ini kisah cinta yang mengandung bawang. Sebagai wanita, aku membayangkan si Mbak Cinta Pertamanya yang ditinggal nikah kekasihnya sampai dua kali. Itu penderitaan yang bertubi-tubi. Mas Yayan tega banget sih, dia udah berusaha menerima cintanya, malah ditinggalin. Padahal cuma butuh kesabaran, dia kan mesti belajar mencintai, karena tidak cinta sama masnya dari awal. Masnya mesti minta maaf sampai dimaafkan! Luka hatinya pasti sangat dalam.


    • Inilah yang belum tuntas.. setelah kutinggalkan, aku tak pernah tahu, apakah dia memaafkanku, atau tetap marah padaku. Aku hanya bisa berharap bahwa dia telah memaafkanku.


  11. Atang Sunandar

    Jika menggunakan logika, keputusan akhir Kang Yayan untuk meninggalkan cinta pertama itu sudah tepat sih menurutku. Karena dia kembali dengan alasan gagalnya cinta si mbaknya dengan lelakinya, jadi sebenarnya kang Yayan memang cuma jadi cadangan. Itu pahit jika diteruskan, karena ada potensi dia akan terus mengenang mantannya.
    Tapi itu juga karena cinta kang Yayan ke dia sudah jauh menyusut sejak penolakan pertama, maka bertumpuklah alasan untuk tidak melanjutkan. Cinta yang tragis di kedua belah pihak.


  12. Selalu beragam kisah cinta orang-orang, terkadang aku mikir kenapa cintaku begini yah. Tetapi ketika baca cerita orang lain semakin tahu pula bahwa semua orang bisa mengalami kisah yang bervariasi.


  13. Indra Wibowo

    Kisah ini membuktikan kekuatan takdir tak terkalahkan.
    Serumit apapun alur perjalanan cinta, sekuat apapun perjuangan mendapatkan cinta yang diidamkan sejak kecil hingga menjelang sampai di gerbang jodoh, tetap tidak akan mampu mengubah takdir.
    Karena sudah ditetapkan dia bukan tulang rusukmu, dan tulang rusukmu bukanlah dia.
    Maka berlapang dada lah dengan takdir! Maafkanlah dirimu dan dirinya! Berfokuslah pada masa depan dengan pasangan kalian masing-masing.


  14. Wahh latar waktunya yang panjang dari kecil sampai dewasa…
    Tapi kalo soal jodoh beneran deh emang cuman Tuhan yang punya kuasa.
    Jodoh tuh kaya rahasia dan takdir yang terikat dan bersesuaian sama amal perbuatan kita kalo menurutku hehe…
    Zainudin dan Hayati ga berjodoh meskipun jauh dekat lagi -jauh dekat lagi tapi tetep ga jodoh yaa karena sikap satu sama lain yang silih berganti memberi dampak ke takdir cinta mereka


    • mungkin sikap dan perbuatan itu terjadi juga karena dibimbing takdir. Hingga menghalangi untuk bersatu, walau sudah sering dekat lagi setelah terpisah. Takdir jodoh tidak mungkin tertukar.

  15. MasyaAllah.. keren banget kisah cintanya. Jodoh memang di tangan Tuhan, ga akan ada yang tau akan bagaimana dengan siapa. Aku pun punya cerita, suamiku adalah teman SMA ku dulu, yg ternyata dia memendam rasa sejak masa sekolah dan selama itu sampai akhirnya dalam beberapa kesempatan kita bertemu dalam sebuah open trip, haha dari situ lah dia mulai mendekati 😀


    • waah.. congratulation untuk Suami Kak Jastitah. Wanita idamannya teryata adalah jodohnya. Mesti sering ngobrol tentang kenangan masa sekolah kan ya. Momen-momen romantis sang pemendam rasa cinta, yg akhirnya mendapatkan wanita pujaannya.


  16. Seandainya berjodoh dengan cinta pertama itu, keren banget kalau dijadiin novel berbasis True Story. .
    Tapi kalo gagal berjodoh kaya gini, kurang asyik, bahkan bisa bikin pasangan yang sah cemburu berat.
    Tapi kalaupun mau dijadiin novel true story, bisa juga menggambarkan kondisi real kebanyakan para pemuda yang memendam rasa lalu berujung lara.. bisa bikin orang-orang yang saling mencintai tapi tak berjodoh berurai air mata.


  17. Fenni (rejekingalir.com)

    Perjalanan soal jodoh memang unik ya kak.
    Harap² si doi yang jadi jodoh, eh ernyata enggak. Maka tak pelak jadi inspirasi diangkat ke novel maupun layar lebar


  18. Bisa jadi ide novel beneran nih mas ceritanya. hehe. tapi memang jodoh itu selalu memiliki jalannya sendiri ya. ada yang suka sama orang bertahun-tahun tapi akhirnya ketemu jodohnya yang baru kenal beberapa bulan.


  19. Wow kisahnya novel ya, bahkan sejak era pra-friensdter! Seru banget. Semoga selalu sakinah


  20. Hmm perjalanan mencari cinta diri sendiri memang sepetualang gitu ya ka. Baper kalo lagi ketemu sama si A, nggak enakan kalo story tiba tiba di balas, saling tatapan nggak sengaja pas ketemu bareng teman teman. Ah gitulah, masa masa se dag dig ser dibuatnya wkwk


  21. Berbicara soal jodoh itu merupakan ketetapan tetapi juga diusahakan. Saya sependapat sih jika ada seseorag yang datang tapi masih membawa masa lalunya, rasanya kekhawatiran dijadikan pelarian itu ada. Memang kalau jodoh pasti dimudahkan jalannya. Alhamdulillah setelah waktunya tepat dipertemukan dengan jodoh ya, Kak,


  22. Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck memang bagus ceritanya.
    Romansanya sungguh menarik.
    Tak heran jika telah diangkat ke layar lebar.


  23. Caca

    Sedih dan jalannya roller coster banget. Apalagi ending ketemu cinta pertama sudah mau menikah terus gagal. Memang tidak seindah di sinetron,


    • Cerita cintanya menarik dan berliku kalau memang jodoh pasti ketemu itu pasti adanya tapi kalau tidak jodoh mau bagaimanapun susah buat bersatu


  24. Akuuuu…
    Sedih.

    Hanya ini yang bisa aku ungkapkan ketika membaca cerita ka Yayan.
    Kenapa yaa.. rasanya seperti ada lubang besar di hati.

    Walau aku tau, ini bukan keputusan yang dipikirkan sehari dua hari. Tapi sebagai penggemar happy ending story, rasanya seperti tidak adil untuk memutuskan sang wanita pujaan hati.

    Tapi benar untuk tidak membuat masa lalu sebagai acuan.
    Ini adalah sebuah kisah untuk menemukan masa depan yang tepat.

    Barakallahu fiik~
    Lepas semua beban dengan menulis yaa, kak.

    Bahagia selalu.


    • Maafkan aku yang telah berbagi kisah pilu ini.. Begitulah kehidupan, tidak semuanya harus happy ending dalam persepsi kita. Namun sebenarnya semua kisah berakhir happy ending menurut keadilan Allah yang maha penyayang. Terimakasih Kak Lendy, atas komentarnya yang menunjukkan deep sympathy.


  25. Maa Syaa Allah. Dalam banget ini ceritanya. Gak nyangka bakal sepanjang dan sedetail ini tulisannya. Saya memang belum pernah baca novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Tapi dulu filmnya nonton. Itu pun berkesan banget nonton filmnya. Salah satu film yang populer kala itu. Ternyata kisahnya Mas Yayan mirip-mirip. Semoga bahagia selalu dengan istri sahnya ya, Mas. Aamiin.


  26. masyaAllah.. kisah cinta itu selalu menarik ya untuk diceritakan.. setiap orang bisa mengalami pengalaman cinta yang berbeda2, dengan kesan yang berbeda2 pula.. semoga yang belum menemukan jodohnya, disegerakan untuk dipertemukan


  27. Ririn

    Kisahnya menarik sekali. Saya membacanya dari awal sampai senyum-senyum sendiri. Teringat kisah cinta pertama saya. Jadi pengen nulis juga tapi ya takut kalau jadi gimana-gimana sama suami. Tapi kisah saya nggak sepanjang itu juga sih. Duhhhh


  28. JoNoK

    Mantap kisahnya, mengharukan sekali


    • Hai Sarjono. Teman di kelas 3 SMA. Terimakasih atas apresiasinya.. Kamu adalah salah satu saksi sejarah dari kisah ini, walau mungkin kamu tidak menyadarinya. Aku tahu, kamu juga mengagumi keanggunan dia, sang wanita pujaan banyak lelaki itu.


  29. NaylaNajwa

    duuh.. huhuuhuuuu…
    aku meleleh membaca kisah ini pada beberapa segmen;
    – Saat mas yayan jatuh cinta pada pandangan pertama karena pujian guru pavoritnya. Pasti guru itu jadi kenangan luar biasa. Aku bisa merasakan vibe romantisnya.
    – Saat tahu ternyata jadi sekelas di SMA kelas 1. Scene itu akan sangat wow jika dalam film.
    – Saat mas yayan menggambarkan bagaimana kekaguman di segmen ‘Memendam Rasa’, tidak memahami rumitnya perasaan, hingga menggambarkan dia seperti berlian yang tidak boleh disentuh. Aku akan juga jatuh cinta pada lelaki yang mencintaiku seperti itu.
    – Saat dia minta bantuan jawaban soal Bahasa Inggris, itu adalah pengakuan bahwa dia juga mengagumimu mas. Mas Yayan salah kalau bilang bahwa mas tidak pernah di hatinya. Wanita yang merasa bisa mengandalkan sesosok lelaki adalah dia yang mengaguminya.
    – Saat dia kembali.. itu semestinya momen kesuksesan bagi cinta mas Yayan. Aku sangat kecewa dengan keputusan mas yang lebih memilih logika, bukan perasaan cinta yang dulu saat mas menginginkannya. Mas telah menambah luka hatinya. Semestinya bisa menjadi obat lara. Kenapa saat itu terlalu banyak pertimbangan, kenapa gak nikah aja langsung.

    Tapi kembali lagi ke takdir yah, gak mungkin bisa dilawan. Syediiiiih sekali cinta berakhir duka. Semoga kalian sudah saling memaafkan.
    Semoga ada orang film yang membaca kisah syahdu ini, sehingga bisa diangkat ke layar lebar.


  30. Bimo Oktofan

    Membaca kisah sejarah cinta yang panjang ini dari awal, membuatku ingin terus membaca hingga akhir. Rasa penasaran akan bagaimana akhir kisah cinta seorang pemendam rasa yang pada umumnya memang tidak dianggap. Aku berharap dan mengira kisah ini akan berakhir gemilang, bahwa orang biasa bisa mendapatkan cinta yang luar biasa.
    Tapi akhirnya aku kecewa berat, ternyata orang biasa memang tidak pernah menjadi spesial seperti di sinetron. Walau nyaris saja itu menjadi cinta yang luar biasa, tapi mas nya memilih tetap mencintai wanita pujaannya tanpa memilikinya. Itu adalah rasa cinta yang menyiksa hingga akhir, karena akan sulit dilupakan setiap detailnya dan getarannya.


  31. Maya Erita

    Benang merahnya adalah Takdir Jodoh!
    Perjalanan panjang cinta pertama ini hanyalah batu loncatan ke Jodoh yg sebenarnya.
    Mas nya iseng kirim inbox friendster ke orang yang tak dikenal, karena putus asa pada cinta pertamanya. Lalu 2 tahun kemudian inbox itulah yang jadi jalan jodoh.
    Jadi persimpangan Takdir Jodoh itu sepertinya bermula saat penolakan pertama dari cinta pertama, sehingga jadi penghambat saat dia ingin kembali pada mas nya yang hampir mati rasa.
    Jadi ini cinta bertepuk sebelah tangan masnya yang berbalas cinta bertepuk sebelah tangan lagi dari mbaknya, karena takdir jodoh yang berbeda. Gak bisa ketemu di waktu yang tepat.
    Sediiiiiiih bacanya. Aku kecewa karena gak happy ending.


  32. Ini bisa diberi judul, “Cinta Luar Biasa yang Pupus karena Takdir”.
    Luar biasa memang, jika memori rasa cinta ditumpahkan dalam bentuk tulisan oleh orang yang pandai merangkai kata. Keren tulisannya.. bikin yang baca terhanyut. semoga si mbak cinta pertamanya membaca tulisan ini.. jadi penasaran bagaimana tanggapan mbak nya.


  33. Coba mengerti runut kisah ini.
    10 tahun masnya hanya mencintai satu orang dan dia perjuangkan.
    Lalu ternyata ditolak dengan menyakitkan.
    Hingga dia menutup harapannya pada mbak cinta pertama itu. Lalu mencoba membuka hati untik wanita lain.
    2 tahun roller coaster, hingga terbiasa ditolak wanita.
    Lalu mbaknya ingin kembali menerima cinta masnya, tapi keburu masnya udah hampir mati rasa. Hingga benar-benar bubarrrr…berantakan.
    Tak lama, jodoh sebenarnya datang. Orang yang dihubungi setelah masnya membuka hati untuk orang lain dan kecewa pada cinta pertamanya.

    Jadi persimpangan takdir jodohnya adalah setelah penolakan mbaknya di tahun 2006.
    Seandainya mbaknya menyadari bahwa dia telah kehilangan masnya sejak 2006, maka mestinya dia tak perlu berharap lagi di tahun 2008.

    Kisah ini bisa jadi pelajaran buat para wanita yang disukai banyak lelaki, bahwa jika sudah menolak seorang lelaki, jangan pernah berharap dia akan kembali. Lupakan dia! karena sakitnya ditolak itu tak ada obatnya.


  34. ya ampun ya, kisah cinta itu rumit juga.. memendam rasa bergejolak ingin mengungkapkan. kadang manis namun pahit ketika tak bersambut baik 😀