Istriku adalah Cinta Sejatiku – Kisah Perjalanan Mencari Jodoh

Cinta Sejati hanya jodohmu - yang sudah berlalu hanya kenangan

Yabdhi.comPerjalanan Mencari Cinta Sejati – Menulis kembali runut masa lalu bisa memperkuat ingatan dan jalinan cinta pada pasangan hidup. Karena detail momennya lekat dengan apa yang dirasa di lubuk hati, dan masa awal bertemu adalah saat harapan dan semangat mengharu biru.

Perjalanan pernikahan seperti mengarungi samudra dengan biduk kecil bernama rumah tangga. Terkadang kerasnya ombak membuat penumpang kapal lupa pada indahnya pelabuhan saat awal akan berlayar dan kelembutan tangan bergandeng memasuki biduk saat janji setia sehidup semati diucapkan.

Maka mengenang indahnya momen-momen awal adalah perekat cinta dan kesetiaan. Bahwa tidak akan ada yang peduli pada keutuhan keluarga kita, selain kita sendiri. Tidak ada yang peduli pada keselamatan kita dan anak-anak di dunia dan akhirat, selain kita sendiri.

Kisah ini kutulis untuk kubaca kembali sewaktu-waktu, jika aku ingin bernolstagia mengenang perjuangan masa muda mencari cinta sejati. Khususnya dengan istriku yang cantik dan telah mencurahkan banyak pengorbanan untukku.

Dia adalah gadis yang cerdas dan cemerlang karir pekerjaannya. Namun dia rela meninggalkan itu semua demi menemani aku. Demi keyakinannya pada Allah, bahwa apa yang ditetapkan Allah adalah yang terbaik untuk manusia.

Juga mungkin kisah ini bisa dibaca oleh anak-cucuku kelak, sebagai sejarah hidup orang tua atau leluhur mereka. Agar mereka mengetahui detail perjalanan hidup orang tuanya.

Inilah kisah Cintaku

Penolakan yang Menyakitkan

Petualangan mencari jodohku dimulai pada pertengahan tahun 2006, setelah aku diterima bekerja di perusahaan swasta di Ibu kota, Jakarta.

Awalnya aku berusaha mengejar Cinta Pertama seperti yang kuceritakan pada artikel yang sangat panjang sebelumnya: Kisah Cinta Pertama yang Kandas setelah Berbalas.

Dalam masa mengejar cinta pertama itu, aku mengalami penolakan yang membuatku hampir putus asa pada cinta, itu terjadi pada akhir tahun 2006. Wanita idaman yang aku jatuh cinta pada pandangan pertama di kelas 2 SMP, kemudian mengisi hari-hariku di masa SMA, telah menolak aku.

Setelah itu aku berpikir bahwa cinta bukanlah segalanya, sehingga aku tidak lagi menjadikan rasa cinta sebagai standar untuk kebahagian. Karena rasa cinta yang ku alami telah menjadi siksaan bertahun-tahun. Cinta membuat aku menjadi lelaki bodoh. Aku bukanlah orang yang beruntung dalam hal pesona kelaki-lakian, maka itulah aku sulit dicintai oleh orang yang aku sukai.

Penolakan itu membuatku mengalihkan perhatian pada seorang teman yang ku pikir baik akhlaqnya dan bisa kusukai tampilannya. Aku mencoba menjalin komunikasi dan mendapatkan tanggapan yang positif. Namun itu seperti harapan palsu, karena setelah kunyatakan maksudku, dia menolak dengan jelas.

Dua penolakan itu cukup menyakitkan. Penolakan cinta pertama hingga kini tidak bisa kulupakan kecamuk rasa kecewa dan malunya. Namun penolakan oleh orang kedua tidak lah begitu berbekas, karena aku tidak pernah begitu menyukainya semasa sering berinteraksi.

Tidak Punya Target, Bebas Bermimpi

Seperti apa Kriteria Wanita yang Kudambakan?

Saat itu, aku telah bekerja di karir pertamaku, yakni perusahaan supplier bahan kimia yang kantornya berlokasi di Gedung Mugi Griya, Jalan MT. Haryono, berada dekat dengan patung Pancoran yang terkenal itu.

Di siang suasana kantor yang tenang, aku duduk bersandar di kursi kerja di dalam bilik kompartemen meja kerjaku. Aku mulai berpikir, seperti apa sosok wanita yang ku dambakan untuk jadi pasangan hidup.

Yang pertama tentu harus cantik menurut pandangan mataku, sebagaimana saran yang sering kudengar dari banyak orang, bahwa istri itu harus sedap dipandang, agar kita tetap tertarik padanya secara fisik (mawaddah). Selanjutnya tentu adalah agamanya, dia harus lah seorang wanita yang berhijab lebar dan mengerti agama dengan pola pikir yang lurus aqidahnya.

OK, lalu seperti apa sosoknya? Jika merujuk pada publik figur, maka siapa yang sesuai. Tentu para artis yang telah hijrah dan berpenampilan syar’i.

Kepalang bermimpi, saat itu aku berhayal punya istri secantik artis. Aku mentertawakan diri sendiri karena lintasan pikiran itu. Karena tentu aku merasa itu adalah perkara sulit. tapi kupikir tak mengapa, toh itu hanyalah mimpi yang kalau pun tidak terwujud, tidak mengapa.

Kebetulan aku diberi akses internet sehingga bebas mengakses website. Aku mulai mencari di google, siapa artis wanita yang berhijab. Lalu munculah foto beberapa artis, seperti Inneke Koesherawati, Cece Kirani, dan Zaskia Adya Mecca.

Dari ketiga artis itu, yang aku suka adalah Cece Kirani, karena mata dan wajahnya memberi kesan wanita yang lembut sifatnya, tidak pemarah, hijabnya lebar dan keibuan. Kemudian aku berusaha mengingat, adakah wanita yang kukenal memiliki wajah semisal Cece Kirani? Jawabannya adalah “Tidak Ada!

Cece Kirani - Artis Berhijab di Tahun 2000an
Cece Kirani – Artis Berhijab di Tahun 2000an

Mencari Kandidat di Situs Jejaring Sosial Friendster

Jika tidak ada yang kukenal, lalu bagaimana aku menemukan dia dan selanjutnya berkenalan dengannya. Di masa itu, website sosial media Friendster sedang booming, sehingga aku menggunakannya untuk mencari sosok wanita idaman baru disana.

Fitur pencarian di Frienster sangat membantu, sehingga aku bisa mendapatkan daftar orang secara spesifik, berdasarkan tempat tinggal, usia, pendidikan dan lain sebagainya. Lalu kucari lulusan Universitas Sriwijaya yang kukira mungkin aku tertarik dan kuhubungi.

Aku mendapatkan profil dua wanita yang menarik perhatianku, yang pertama adalah lulusan MIPA Biologi tahun 2002 dan yang lainnya adalah lulusan Jurusan Keperawatan 2002. Namun saat itu aku tidak mencatat nama mereka sehingga aku tidak bisa mengingat semuanya.

Dia Secantik Artis yang Shalihah

Gadis lulusan MIPA Biologi 2022 itu bahkan punya kemiripan dengan Cece Kirani, matanya teduh menawan, senyumnya manis tak membosankan, wajahnya mulus tak bernoda. Sepertinya dia orang yang lembut perilakunya.

Melihat-lihat gallery fotonya, dengan mudah aku mengagumi keanggunannya, apalagi beberapa fotonya terlihat menggunakan jilbab yang lebar. Sepertinya dia pas seperti yang kuinginkan. Tapi pertanyaannya, kira-kira apakah dia mau padaku?.

Lagi-lagi benakku berkata, “Masa Bodoh! namanya juga bermimpi“. Kalaupun dicuekin, toh aku tak pernah mengenalnya, dan dia tak pernah mengenal ku. Tidak pernah ada harapan yang menggebu-gebu seperti di masa SMA dulu yang bisa membuatku seperti hancur-lebur saat ditolak.

Lalu kukirim pesan ke inbox Friendster kedua wanita tersebut dengan kata-kata yang sama persis, yaitu: “Assalamu’alaikum. Salam kenal, bolehkan aku mengenalmu lebih dekat?” Itu saja.

Beberapa hari ku cek adakah jawaban, namun tidak ada jawaban sama sekali. Aku kembali mentertawakan diriku sendiri. Orang ndeso yang lugu, berpenampilan kucel, kurus kering, bermuka kusut, lah kok bermimpi memiliki istri secantik artis. Lalu aku segera melupakan hayalan itu, karena kuanggap sebagai hal yang sia-sia.


Mencari Jodoh di Riau

Life must go on. Aku berfokus mencari pekerjaan baru. Hingga pada Juli 2007, aku diterima sebagai Graduate Trainee di sebuah perusahaan Pabrik Bubur Kertas di Riau, yakni PT Riau Andalan Pulp and Paper.

Cukup lama aku tak memikirkan perihal jodoh, apalagi selama 11 bulan masa training, perusahaan melarang kami menikah dengan jelas tertulis di perjanjian kerja selama masa training.

Dalam masa training itu, beberapa wanita sempat menjadi perhatianku

Seorang Customer Service Bank Syariah Mandiri (BSM), membuatku sempat berharap karena keramahannya (padahal mereka memang ditraining untuk itu). Sikapnya yang seperti membuka diri semisal bertukar nomor HP dan terjadi komunikasi hingga menanyakan hal-hal personal semisal asal daerah, kuliah dimana, dan lain sebagainya. Perkenalan ku dengannya sempat diketahui teman-teman di lingkungan kerjaku, hingga aku digosipkan sedang melakukan pendekatan padanya.

Ketika sering berkomunikasi, aku mengecek akun friendsternya, dan aku jadi tahu ternyata dia sudah punya calon suami. Seorang karyawan Pertamina yang tampan dan gagah telah tertulis sebagai kekasihnya. Aku langsung menutup buku harapan dan kembali mentertawakan diri sendiri.

Seorang Amoy yang Supel, gadis Riau keturunan Tionghoa muslim kurasa bisa kusukai. Dia adalah junior di tempat kerja. Aku berusaha mendekatinya, dan mendapat tanggapan positif. Dia ramah dan supel, juga aktif di kegiatan masjid. Sepertinya dia gadis yang shalihah. Namun tak butuh waktu lama, aku ditolaknya dengan jelas walau secara santun. Dia mengatakan, “Kita berteman biasa saja“. Dan bertambah lah daftar gadis yang menolakku.

Terbiasa ditolak, aku cepat move-on. Namun itu perlahan membuat ku makin tak percaya diri. Hingga sempat terpikir, terserah pada Allah, siapa pun yang mau menerimaku, aku akan belajar mencintainya.

Cinta Pertama ingin Kembali

Sekitar hampir dua tahun petualangan menambah daftar wanita yang menolakku. Pada tahun 2008, tiba-tiba gadis pujaan masa SMA-ku yang telah menolakku pada akhir 2006, menghubungi aku kembali.

Kali ini berbeda, dia begitu bersemangat ingin bertemu denganku. Lalu aku pulang ke Prabumulih dan kami bertemu kembali. Dalam benakku, dia hanyalah teman yang pernah kusukai dan pernah kuharapkan menjadi jodohku, namun tidak mungkin dia suka padaku, karena dia telah menolakku karena telah punya calon suami.

Tak kusangka ternyata dia menangis menceritakan perihal percintaannya dengan lelaki yang dulu dia sebut sebagai calon suaminya. Lelaki yang disebutnya menjadi sebab dia menolakku itu, telah meninggalkannya dan saat itu telah menikah dengan wanita lain.

Singkat cerita, dia menyatakan bahwa dia bersedia menerima tawaranku yang dulu. Dia mau menikah denganku. Aku cukup senang, karena saat itu aku selalu gagal mencari jodoh.

Namun perasaanku sudah tidak seperti dulu lagi, saat aku menggebu-gebu ingin menikahinya. Rasa tersakiti saat ditolak dulu masih membekas. Apalagi selama berkomunikasi lagi, dia sangat sering curhat tentang pacarnya yang meninggalkannya. Sehingga aku cemburu dan merasa bahwa sebenarnya hatinya memang tidak pernah untukku.

Walau hubungan kami telah dekat kembali, orang tuaku telah menyukainya, dan dia telah bersikap mesra padaku. Ada kesulitan dalam hatiku untuk membangkitkan lagi rasa cinta yang dulu ingin kuhapus hingga mati.

Kesalahanku

Kesalahan besar ku adalah mengiyakan, bahwa aku akan menikah dengannya. Padahal hatiku telah menjadi ragu tentang rasa cintaku padanya. Aku tidak menyukai suasana murung saat dia curhat tentang mantan pacarnya. Aku merasa bahwa aku memang tidak pernah ada di hatinya.

Aku adalah orang yang mudah terbawa suasana lawan bicaraku, sehingga aku lebih suka pada orang-orang yang memberi suasana riang gembira, bersemangat dan optimis. Sedangkan bersamanya aku merasa diajak ke suasana yang murung dan penuh kesedihan. Aku tidak menyukai hal itu.

Akhirnya aku membuat keputusan, bahwa aku tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan dengannya. Dia sangat terpukul dan menangis, aku kehabisan kata-kata menjelaskan alasanku membuat keputusan itu. Hingga akhirnya dia memblokir nomor hp-ku. Dia menghilang dari ku hingga kini.

Aku merasa sangat bersalah telah melukai gadis yang dulu ku sukai itu. Sejak hari itu hingga kisah ini kutulis, tidak pernah ada komunikasi lagi antara aku dan dia.

Yang kutahu, dia akhirnya menemukan jodohnya dan menikah pada Januari 2012. Sepertinya dia telah berbahagia dengan keluarganya, semoga dia pun telah memaafkan aku. Suaminya adalah seorang lelaki yang kukenal, berperawakan tinggi, tampan dan sangat pendiam.


Ketika Jodohku Sampai

Kembali tak memiliki kandidat calon istri. Aku lupa tepatnya berapa lama, mungkin beberapa bulan setelah kekacauan yang kubuat karena penolakan ku pada cinta pertama yang ingin kembali itu, aku kembali mendapatkan harapan.

Notifikasi Inbox Friendster Berbunyi

Di paruh awal tahun 2009, saat dalam perjalanan dari Pangkalan Kerinci ke Duri, untuk menghadiri pernikahan salah seorang teman di tempat kerja, notifikasi inbox friendster ku memberi tanda bahwa ada pesan masuk.

Aku cukup kaget, karena itu adalah pesan balasan dari pesanku yang sudah sangat lama dan hampir aku lupakan. Itu adalah pesan dari salah seorang dari dua gadis yang kuajak berkenalan di tahun 2006 dulu.

Dia yang mengirim pesan itu adalah yang aku anggap mirip Cece Kirani, seorang lulusan Jurusan MIPA Biologi UNSRI angkatan 2002. Namanya cukup sulit disebut dan diingat saat itu.

Aku lupa detail perkenalan itu, dia menjawab salamku dan menyatakan kalau aku boleh mengenalnya lebih dekat. Aku begitu senang dan segera mengajaknya bertukar nomor HP agar aku bisa menelponnya.

Aku begitu exciting, karena itu adalah gadis yang ku anggap secantik artis. Mengetahui pesanku mendapat tanggapan positif, membuatku berdebar-debar. Walau aku tetap merasa pesimis karena telah terbiasa ditolak wanita.

Tantangan Serius untuk Bertemu

Komunikasi berjalan intens hingga membahas kriteria calon pasangan, apakah sudah punya calon pasangan atau belum hingga latar belakang keluarga.

Pembicaraan kami makin serius hingga dia mengatakan bahwa dia tidak ingin pacaran, karena itu bukan hal yang baik. Dia hanya mencari lelaki serius yang ingin menikah.

Dia menantang keseriusanku. Aku dimintanya untuk mengunjunginya di Batam, tempat dia bekerja saat itu. Aku merasa cukup khawatir jangan-jangan aku ditolak lagi, padahal sudah jauh-jauh ke Batam. Tapi hatiku mengatakan bahwa aku tidak boleh menyia-nyiakan peluang itu. Sehingga aku mengiyakan ajakan bertemu itu.

Pertemuan Pertama

Aku berangkat ke Batam dan pertemuan pertama terjadi di Bandara Hang Nadim. Dia menjemputku dengan diantar oleh sopir kantornya. Dia adalah seorang Office Manager di Perusahaan Penyedia Layanan Medical Check up, sehingga bisa meminta bantuan sopir kantornya untuk menjemput aku.

Kulihat wajah itu begitu bersih tanpa jerawat satu pun. Senyumnya manis tak membosankan. Tak ada make up tebal di wajahnya. Dia tampil apa adanya, namun tetap terlihat manis mempesona.

Sikapnya biasa, natural dan tidak dibuat-buat, menunjukkan kedewasaan orang yang cerdas. Dia seorang manager, tentu memiliki karakter yang kuat dan aku tak dapat berbasa-basi karena tentu dia telah terbiasa membaca karakter orang. Sebenarnya ada juga rasa takut bahwa aku tidak akan sanggup memimpinnya.

Di masa selanjutnya, kutanyakan padanya apa impresi pertamanya saat pertama kali bertemu. Dia mengatakan bahwa aku adalah sosok lelaki yang biasa-biasa saja, sama sekali tidak tampan dan bukan tipe lelaki yang disukai banyak wanita. Namun menurutnya nilai positif ku adalah bahwa wajah ku terlihat bersih dan penampilan ku terlihat rapi.

Berkenalan dengan Lingkungan Kerjanya

Dia mengenalkan aku pada lingkungan kerjanya. Dia seperti bintang yang bersinar terang diantara teman-temannya, menjadi pusat perhatian dan keceriaan. Bahkan beberapa rekan kerja prianya menatapku seolah cemburu padaku, karena aku telah menjadi kekasihnya.

Obrolan kami singkat tidak banyak basa-basi. Karena kami tak punya memori perasaan masa lalu yang mengharu biru, sehingga lebih didominasi logika dan tujuan masa depan. Dia mengaku nyaman denganku, dan aku merasa bisa menerimanya.

Akhirnya Ada Wanita Cantik yang Menerimaku

Aku sempat berpikir, “Ada yang mau denganku pun sudah Alhamdulillah syukur“. Karena aku hampir kenyang ditolak wanita yang sebelumnya ku kenal. Bahkan wanita yang telah menerima ku pun, kurasakan sebenarnya tidak benar-benar menerima ku.

Aku berbunga-bunga. Merasa sangat bersyukur pada Allah. Bahwa panjang berlikunya jalan cintaku, ternyata adalah untuk mencapai momen itu.

Aku yang sempat merasa hancur dan kehilangan rasa percaya pada cinta, tapi ternyata Allah takdirkan untuk mendapatkan wanita yang kurasa mustahil mau padaku, untuk menjadi pasanganku.

Saat melihat foto-fotonya di gallery friendster di akhir tahun 2006, aku mentertawakan diriku sendiri. Lalu merasa bodoh karena telah mengirim pesan mengajak perkenalan yang tidak mendapat tanggapan.

Ternyata rasa kecewa akibat penolakan cinta pertama, yang seolah meremukkan tulang-tulangku itu, telah menuntun aku keluar dari bayang-bayang impian cinta pertama dan menjadi bebas menentukan harapan selanjutnya.

Dan pupusnya cinta pertama walau dia telah menerimaku di tahun 2008, adalah jalan takdir yang memisahkan aku dengan cinta pertama, walau perpisahan itu terasa berat dan bukan keputusan yang mudah.

Berjanji Bertemu Kembali di Palembang

Dari obrolan di Batam itu, kami berjanji untuk bertemu kembali di Palembang pada bulan Ramadhan tahun 2009, dan dilanjutkan dengan silaturahmi Orang Tuaku ke rumahnya pada lebaran. Pertemuan di Lebaran itu menghasilkan jadwal hari lamaran dan rencana hari H pernikahan.

Dia Pindah Kerja ke Palembang

Saat bertemu dengan ku di Batam, dia dalam masa transisi pindah kerja dari Perusahaan Medical Check up ke Perusahaan Sub-kontraktor Bank Mandiri. Dan perusahaan baru tempatnya bekerja itu memiliki cabang di Kota Palembang.

Sebelum pernikahan berlangsung, proposal pindah lokasi kerja ke Palembang disetujui dan dia bisa bekerja di Palembang. Sehingga persiapan pernikan lebih banyak dilakukan oleh keluarganya.

Lamaran dan Menikah

Prosesi lamaran berlangsung tanpa kehadiranku, karena aku harus bekerja di Riau. Aku hanya mendapatkan kiriman foto-foto dari prosesi lamaran tersebut.

Pernikahan pun dilangsungkan pada 8 November 2009 yang dilanjutkan dengan acara Ngunduh Mantu di Prabumulih 3 minggu setelahnya, 29 November 2009.

Resepsi pernikan kami cukup sederhana dengan tenda di lapangan komplek hoktong, Plaju Palembang. Paginya akad nikah dan langsung dilanjutkan dengan resepsi setelahnya di hari yang sama.

Yayan & Efril - 8 November 2009
Yayan & Efril – 8 November 2009

Aku adalah Jawaban atas Doanya

Setelah menikah, istriku menceritakan alasan mengapa dia langsung menerimaku sejak awal bertemu, tanpa banyak syarat. Bahkan sejak menerima pesan ajakan berkenalan dari ku dia telah mengira bahwa aku adalah jodohnya.

Dia adalah bunga pujaan banyak lelaki di kampung halamannya. Tak sedikit lelaki tampan dan perlente berusaha mendekatinya. Tapi tak seorang pun menurutnya menarik baginya.

Bahkan ada orang kaya yang sangat tampan pernah mendekatinya dan ibunya. Membawakan hadiah-hadiah yang mahal. Tapi dia menolak memakai hadiah itu dan dia berikan kepada orang lain.

Dia menceritakan bahwa ada ketakutan dalam dirinya pada lelaki tampan dan kaya. Karena banyak yang dia lihat di kehidupan nyata, bahwa lelaki demikian cenderung merendahkan wanitanya dan mudah berselingkuh.

Itulah dia sering berdoa agar diberikan oleh Allah jodoh seorang lelaki baik yang tidak tampan, tapi tidak pula buruk rupa. Lelaki sederhana yang biasa-biasa saja dan tidak terlalu kaya, tapi mau berjuang untuk keluarga. Lelaki yang lembut dalam memperlakukan wanitanya, tidak mudah memukul, taat beribadah dan mampu membimbingnya.

Dia ingin membersamai lelaki itu dalam berjuang dari nol, hingga keberadaannya menjadi signifikan dalam keluarga.

Dia merasa dan melihat bahwa semua harapan itu ada padaku, sejak pertama kali bertemu dan berkomunikasi.

Biduk Kecil Rumah Tangga

Pengorbanannya yang Harus Kuingat

Dia telah mengatakan akan ikut aku kemanapun aku pergi. Sehingga dia akan melepaskan semua karir pekerjaannya. Dia akan menjadi “Full Time Wife” untukku.

Walau kukatakan bahwa gajiku kecil dan mungkin tidak cukup untuk hidup berkecukupan. Namun keyakinannya akan janji Allah, bahwa orang yang menikah pasti ditambah rezekinya, telah membuatku tersanjung.

Bulan Madu Berakhir Pilu

Dia berhenti dari pekerjaannya dan ikut aku ke Riau. Memulai dengan mengontrak rumah bedeng di Pangkalan Kerinci, kami mendapatkan Ibu Kontrakan yang baik dan tetangga yang juga baik dan ramah.

Kami benar-benar menikmati masa awal menikah itu. Walau kami tidak berbulan madu ke tempat wisata seperti kebanyakan pengantin baru, kontrakan itu seperti hotel bulan madu bagi kami. Apalagi kami adalah orang yang tidak suka berwisata ke tempat-tempat yang jauh.

Selama dua bulan pertama, aku membantunya mencarikan pekerjaan, karena dia ingin mencoba peruntungan di Pangkalan Kerinci. Dia sempat dipanggil hingga interview akhir di Bank Mega dan Bank Riau, namun statusnya yang sudah menikah membuat dia harus ditolak.

Sekitar 2 bulan di kontrakan, tanda-tanda kehamilan pun tiba. Beberapa minggu hamil, istriku sangat berubah. Dia tak lagi rajin memasak dan membersihkan rumah, terakhir dia masak tidak diselesaikannya hingga dapur berantakan.

Dia mengalami home-sick saat hamil dan sangat ingin pulang ke Palembang. Beberapa hari aku terpaksa membeli makan ke Rumah Makan untuk kami makan bersama, karena dia benar-benar stop beraktifitas.

Akhirnya dia memutuskan pulang ke Palembang karena tidak tahan sendirian saat aku kerja. Dan aku tidak bisa menahan keinginannya. Dalam keadaan hamil 1 bulan, dia berangkat sendirian pulang ke Palembang. Aku merasa sangat sedih karena tidak bisa membuatnya nyaman.

Kelahiran Anak Pertama

Masa kehamilannya dihabiskan di Palembang hingga anak pertama kami lahir. Sementara aku kembali seperti lajang di Riau. Selama menunggu kelahiran, aku telah mengurus permohonan untuk mendapatkan rumah dari perusahaan, sehingga kami tidak perlu lagi membayar kontrakan.

Anak pertama kami lahir pada 5 Oktober 2010 di Rumah Sakit Charitas, Palembang. Anak perempuan itu lebih banyak kemiripannya dengan wajahku di usia bayi, namun perlahan mewaris wajah manis ibunya setelah saat beranjak dewasa. Hingga dia seperti benar-benar mix 50:50 antara wajahku dan istriku.

Kembali ke Riau

Saat usia bayi kami 3 bulan, aku kembali memboyong keluargaku ke Pangkalan Kerinci Riau. Kami telah mendapat jatah rumah perusahaan untuk level operator paling bawah. Karena memang posisiku adalah operator saat itu.

Itu adalah masa-masa sulit bagi istriku. Anak pertama kami sangat rewel di malam hari, hingga kami kurang tidur. Aku lebih sering tidak kuat menjaga anak di malam hari, karena telah kelelahan saat bekerja di siang hari. Tubuh istriku hingga terlihat kurus karena kelelahan yang luar biasa.

Aku mengingat kesusahan itu. Pengorbanan istriku luar biasa. Seorang wanita cantik yang seperti bintang di tempat kerjanya, saat itu menjadi layu hingga kurus karena mengurus anakku.

Saat di Pangkalan Kerinci, Perumahan PT RAPP
Saat di Pangkalan Kerinci, Perumahan PT RAPP – Rafifah yang rewel dan sangat aktif
Pulang Ke Palembang

Lebaran tahun 2011, kami pulang kampung dengan anak yang masih rewel. Saat tiba waktu pulang ke Riau, kami memutuskan untuk mengurus anak pertama itu di Palembang, hingga dia telah cukup besar dan tidak rewel lagi. Karena di Palembang ada ibu mertuaku yang bisa membantu mengurusnya.

Sedangkan jika dengaku, istriku kelelahan. Sedangkan aku telah lelah dengan pekerjaan di pabrik, sehingga terkadang aku sempoyongan di tempat kerja karena kurang tidur.

Pindah Kerja

Saat kembali sendiri di Riau, aku secara kebetulan bertemu dengan seorang senior kerja dari Departemen Lain di supermarket. Dia menanyakan padaku, apakah betah kerja di perusahaan sekarang. Kujawab seadanya ya dibetah-betahin, karena sudah berkeluarga.

Kemudian dia menawarkan bahwa sedang ada lowongan kerja untuk jadi Auditor di perusahaan sebelah, yakni Group Sinarmas. Jika aku berminat, dia memberikan alamat email untuk mengirim lamaran untuk posisi tersebut.

Singkat cerita, aku mengikuti proses rekrutmen dan dinyatakan diterima untuk ditempatkan di Perawang, Riau. Aku mengambil kesempatan itu, namun konsekuensinya aku harus berada di Serpong selama masa probation.

Hidup Terpisah

Pekerjaan sebagai Auditor membuatku harus sering berkeliling ke pabrik-pabrik di bawah grup Asia Pulp and Paper (APP). Sehingga walau aku ditempatkan di Perawang, tetap saja lebih banyak pergi ke pabrik lain. Bahkan pada tahun 2012, aku ditarik lagi ke kantor pusat di Serpong.

Kondisi itu membuatku sulit untuk memboyong keluarga. Sehingga nyaris aku hidup terpisah dari keluarga selama bekerja di grup Sinarmas tersebut.

3 Bulan di Perawang

Aku pernah membawa keluarga ke Perawang hanya kurang lebih dalam waktu 3 bulan. Kami mengontrak rumah bedeng di sana. Aku merasa cukup prihatin di kala itu, karena fasilitas kehidupan jauh lebih seadanya dibanding di RAPP dulu. Kami tidur di kasur tipis dengan kipas angin didinding. Kondisi sanitasi kurang baik, karena banyak tikus di rumah kontrakan itu.

Ada televisi tapi sinyal UHF sangat minim, sehingga untuk hiburan anak kami hanya dengan menyetel VCD. Kegiatan mencari disc film kartun di rental VCD jadi acara rutin.

Untuk pergi ke kota pekanbaru pun cukup tidak nyaman, karena kami harus naik angkutan yang sopirnya terkenal sering ugal-ugalan. Sehingga kami menghabiskan waktu di Perawang saja selama 3 bulan itu.

Tidak bisa lama, karena setelah 3 bulan itu, aku kembali ditugaskan ke pabrik lain selama beberapa bulan. Aku tidak mungkin meninggalkan mereka di Perawang. Sehingga aku antar dulu mereka pulang ke Palembang sebelum waktu bisnis trip tiba.

Gelisah karena Jauh dari Keluarga

Masa-masaku menikmati karir pekerjaan sebagai Auditor di APP-Sinarmas tidaklah lama. Aku mulai gelisah karena terpisah dari keluarga, jarang pulang karena sering berbulan-bulan bisnis trip.

Aku mulai gelisah dan ingin mencari karir baru yang membuatku bisa menetap. Mantan atasanku di pekerjaan pertamaku dulu menawari aku untuk ikut dengannya lagi. Aku mengiyakan, namun aku harus menunggu perusahaannya menang tender terlebih dahulu.

Tender itu tidak dimenangkan, sehingga aku tidak jadi pindah kerja. Dalam kondisi yang kian gelisah, aku hanya berdoa agar dipersatukan lagi dengan keluargaku. Agar aku diberi pekerjaan yang dekat dengan kampung halamanku, sehingga aku bisa menetap dengan keluarga dan dekat dengan orang tuaku.

Doa yang Khusyuk

Saat itu aku merasakan bahwa memang hanya Allah satu-satunya harapanku. Aku telah sering mengalami bahwa meminta bantuan pada manusia selalu mengecewakan, sedangkan meminta bantuan pada Allah selalu dijawab sesuai harapan bahkan lebih baik.

Kondisi itu membuatku berdoa dengan khusyuk penuh harapan. Benar saja, doaku diijabah melalui email dari seorang manajer Internal Audit di PT Tanjungenim Lestari Pulp and Paper (TELPP). Pabrik bubur kertas di wilayah Muara Enim, Sumatera Selatan. Hanyak sekitar 35 km dari rumah orang tuaku di Prabumulih.

Itu adalah pengabulan doa yang kurasakan luar biasa ajaib. Karena aku tidak melamar ke PT TELPP, tapi ditawari oleh salah satu boss-nya langsung.

Kembali ke Kampung Halaman

Doaku, doa orang tuaku dan doa istriku diijabah dengan diterimanya aku bekerja di PT TELPP pada Juli 2013. Kami mendapatkan fasilitas rumah perusahaan yang luas dan lingkungan yang bersih.

Lokasi kerja yang dekat dengan keluarga besarku di Prabumulih membuatku bisa mengunjungi orang tuaku kapan saja.

Pada tahun 2016, anak kedua kami lahir. Saat hamil, sama seperti kehamilan pertamanya, istriku mengalami home-sick sehingga dia menghabiskan waktu kehamilan hingga melahirkan di Palembang.

Kehamilan yang ketiga terjadi di tahun 2020 awal (saat wabah pandemi Covid-19 menyerang), namun bayi kami itu gagal berkembang hingga runtuh. Sehingga istriku harus menjalani operasi kuret.

Bersama si cantik Khanza & Rafifah yang mewarisi kecantikan ibunya
Bersama si cantik Khanza & Rafifah yang mewarisi kecantikan ibunya

Demikianlah kisahku mencari cinta sejati. Aku merasa banyak keajaiban dan kemudahan hidup yang diberikan Allah padaku, walau awalnya seperti tidak sesuai keinginanku. Namun pada akhirnya semua yang terjadi adalah hikmah kebaikan di akhir cerita.

Hikmah

Beberapa Hikmat dari Kisah ini yang bisa kuambil adalah:

  • Hidup mengalir sesuai takdir Allah, bukan sesuai keinginan kita.
  • Allah mengabulkan doa kita bahkan lebih baik dari yang kita bayangkan.
  • Jika kita meminta perlindungan pada Allah, mungkin kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, namun itu adalah yang terbaik untuk kita.
  • Pengorbanan pasangan kita adalah keromantisan yang jauh lebih berharga dibanding keromantisan remaja yang baru mengenal rasa suka pada lawan jenis.
  • Setiap kepedihan dalam hidup pasti ada akhirnya, karena itu kita harus percaya bahwa setelah kesulitan selalu ada kemudahan, sebagaimana yang telah Allah janjikan.

Harapan dan Doa

  • Semoga cinta kami terjaga hingga kami tua renta dan dipersatukan kembali di surga.
  • Istriku adalah cinta sejatiku, karena dia menerimaku apa adanya tanpa syarat ini dan itu.
  • Istriku adalah cinta sejatiku, karena dia mengorbankan semua impian karirnya karena percaya padaku, walau aku hanyalah seorang operator pabrik bergaji kecil yang berpenampilan lusuh dan ringkih.
  • Mungkin aku tak sempurna baginya, dan dia tak sempurna bagiku, tapi kita bisa saling menerima apa adanya dan memulai semuanya dari nol.
  • Semoga anak-anak kami memiliki kehidupan yang lebih gemilang dengan AlQuran dan pengetahuan agama yang lebih baik dari kami. Semoga mereka diberi pasangan yang ‘alim dalam agama, baik ibadahnya dan benar aqidahnya.