Kenangan Masa Kecil yang Tanpa Beban, Gelak Tawa dalam Keprihatinan

anak kecil di kebun karet

Yabdhi.com – Kenangan masa kecil yang tanpa beban, gelak tawa masa lalu dalam tangis bahagia di masa kini – Mengenang masa susah di usia anak-anak membuatku banyak bersyukur di masa dewasa. Walau hidupku tergolong tetap sederhana tidak berada, tapi telah jauh lebih baik untuk anak-anakku, dibanding kehidupanku di usia mereka saat ini.

Kami yang lahir di tahun 80an, disebut generasi emas. Karena kami merasakan perubahan zaman yang berlangsung cepat dari segi ekonomi, perkembangan teknologi dan budaya. Kami adalah generasi yang merasakan hidup tanpa listrik di pelosok, hingga ketergantungan dengan listrik di masa kini.

Di usia anak-anak, kami belum mengenal kemewahan dan kemudahan dalam hidup, sebagaimana teman-teman yang beruntung dilahirkan dari keluarga yang berkecukupan.

Saat itu kami menjalani hidup dengan riang gembira tanpa beban, walau dengan kondisi yang jika terjadi di masa kini, itu akan terasa memprihatinkan. Mengenangnya saat hidup telah lebih baik terkadang membuatku meneteskan air mata.

Itu membuat dada terasa sesak, mata memanas tak tertahan mengucurkan air mata. Jika saja di masa kini masih ada orang yang hidup dengan kondisi itu, akan terasa sangat pilu untuk disaksikan.

Berikut beberapa hal atau kejadian yang ingin ku highlight sebagai keunikan masa kecilku:

Masa Kecil yang Terik

Berjalan Kaki Terpanggang Bermandi Debu

Di usia sekitar 3 hingga 4 tahun, aku selalu bersama orang tuaku yang lebih banyak tinggal di pedalaman daerah Talang Djimar. Kebun yang kami sebut ‘Ume‘ itu berjarak sekitar 15 km dari rumah kami di Desa Sukaraja, Prabumulih, Sumsel.

Untuk pulang ke rumah, atau pergi ke ume, tidak ada cara lain selain berjalan kaki. Jika kami beruntung, kami mendapat tumpangan mobil operasional lapangan Pertamina, yang itu pun bak belakangnya banyak belepotan minyak mentah.

Saat akan pulang ke desa setelah seminggu tinggal di ume, Bapak dan Ibuku memulai perjalanan di tengah siang bolong, setelah zuhur. Karena di pagi hari mereka harus menyadap karet.

Aku yang bertubuh mungil awalnya digendong, namun tak lama ibuku akan kelelahan menggendongku, hingga aku diminta berjalan. Karena langkahku kecil, terlalu sering aku ketinggalan hingga Bapak dan Ibu harus berhenti menungguku. Aku berlari-lari mengejar mereka.

Meringis di terik matahari yang kejam. Betisku terasa akan putus hingga aku merengek minta digendong kembali. Tapi tak pernah lama aku digendong, karena bapak atau ibu akan lekas kelelahan menggendongku.

Celakanya, jika ada mobil yang lewat, kami harus bermandi debu, karena kepulan debu dari ban mobil yang menderu, seperti gumpalan badai pasir di gurun sahara. Suasana itu seperti penderitaan berat bagiku, tapi bagi orang tuaku, itu adalah hal yang sudah biasa mereka jalani.

Maka bisa dibayangkan seperti apa tampilanku di usia pra-sekolah. Kulitku menghitam dan seperti bersisik, lebih sering tak pakai baju berkeliaran di semak belukar, rambutku keriting besar tak beraturan.

Hingga usia SMP, hal itu masih sering kulakoni saat akan pergi atau pulang dari Ume, hingga aku terbiasa berjalan belasan kilometer di terik panas. Alhamdulillah, di usia SMA, Bapakku telah punya lebih dari satu sepeda, sehingga aku bisa bersepeda ke kebun.

Arena Bermain Semak Belukar dan Pepohonan

Saat tinggal di ume, arena bermain dengan kakak perempuanku adalah semak belukar dan pepohonan di kebun karet orang tua ku. Kami mencari buah-buah semak yang bisa dimakan seperti buah ‘karamunting‘ yang juga kata bapakku adalah buah yang disukai Harimau Sumatera.

Jadi mungkin Harimau bermain petak umpet dengan kami saat makan buah berasa manis itu. Mengingat dulu populasi harimau sumatera masih cukup banyak. Tapi harimau cenderung menghindar dari manusia, hingga kami tak pernah bertemu muka.

Tak ada rasa takut pada binatang buas, dan orang tuaku juga tak pernah menakut-nakuti kami tentang binatang buas. Aku bisa masuk ke semak-semak dan tidur-tiduran disana tanpa rasa khawatir. Jika kubayangkan anakku di usia 4 tahun melakukan hal itu di masa sekarang, aku akan sangat mengkhawatikan keselamatannya.

Pepohonan di kebun karet adalah arena kami bermain monyet-monyetan. Kami menirukan tingkah laku monyet yang bergelantungan di pohon. Aku di masa pra-sekolah tidak seperti anak-anak zaman sekarang yang menirukan gerakan laga super hero seperti power ranger, karena kami belum mengenal televisi di masa itu.

Makanan Mewah

Susu Kami Air Tajin

Kami hanya mengenal susu kental manis cap ‘bendera’ atau cap ‘nona’ di masa kecil. Tapi itu sangat jarang kami nikmati. Susu paling nikmat yang lebih sering kami nikmati adalah air tajin, yakni air dadih nasi saat mendidih.

Nenek atau ibuku akan sengaja menambahkan banyak air saat memasak nasi, kemudian saat nasi mendidik, air tajinnya diambil biasanya hingga 2 cangkir kecil. Ditambah gula pasir, lalu disajikan pada kami yang telah menunggu. Nikmatnya hingga ke ubun-ubun, kental manis dan terasa bertepung.

Kerak Nasi yang Dinanti-nanti

Setelah air tajin, saat nasi telah masak, kemewahan sajian selanjutnya yang kami nantikan adalah gurihnya kerak nasi yang baru dimasak. Karena dulu masak nasi dengan panci aluminium yang mau tidak mau menghasilkan kerak nasi yang tebal di bagian bawah.

Setelah nasi dipisahkan, kerak yang tertinggal dikeruk lalu dikepal-kepal dan ditaburi sedikit garam. Itu adalah snack mewah yang dinanti-nanti di jam lapar.

Telur Goreng dibagi Enam

Lauk favorit kami adalah telur goreng, mungkin sama dengan kebanyakan anak-anak di zaman sekarang. Karena telur goreng sangat gurih dan sedap. Namun kami yang 4 bersaudara, sementara supply telur zaman dulu sangatlah sedikit, sehingga telur jadi salah satu makanan yang mewah.

Satu telur yang didadar, dibuat selebar mungkin saat digoreng. Kemudian dibagi 6 seperti potongan pizza. Bisa dibayangkan betapa kecilnya bagian telur goreng itu untuk tiap orang. Karena itu adalah makanan yang terasa mewah, maka aku akan mengambilnya sedikit demi sedikit, hingga tiap suap nasi ada telur goreng di dalamnya.

Indomie adalah Sajian yang Mewah

Di usia awal sekolah, kami sudah mengenal mi instan semisal Indomi, Sarimi, dan Supermi. Namun karena ekonomi keluarga kami di bawah garis kemiskinan, sangat jarang kami makan mi instan. Biasanya ibu membeli mie jika baru mendapatkan uang dari hasil menjual karet.

Ibu membeli 4 bungkus indomie untuk dimakan bersama. Mie itu dimasak dengan ditambah sebiji telur. Diberi kuah yang banyak dan dimasak sampai mie nya benar-benar layu, agar menjadi seolah-olah banyak. Lalu mie yang 4 bungkus itu dibagi untuk 6 hingga 8 orang. Agar kenyang, makannya ditambah nasi.

Acara makan mie instan itu terasa spesial dan merupakan hidangan mewah. Karena gurihnya luar biasa, seperti makanan orang gedongan.

Berangsur waktu, kami sudah bisa memasak mie sendiri, terkadang kakak perempuanku mencuri-curi waktu makan mie sendirian, agar bisa makan mie sebungkus sendirian. Aku kadang memergokinya, sehingga walau kesal dia harus membagi mienya denganku.

Aku jadi terinspirasi, kadang-kadang meniru kakak perempuan ku itu. Bisa makan mie instan sebungkus sendirian adalah kemewahan luar biasa, karena lebih banyak dari biasanya.

Pertama Kali Makan Ikan Laut

Kami sering makan ikan di masa kecil, bukan karena kami orang kaya, tapi karena memang ikan air tawar cukup melimpah tersedia di alam. Jika pun membeli, harganya sangat lah murah.

Saat tinggal di kebun, ikan bukanlah makanan yang sulit di dapat, cukup dengan memancing sebentar, ikan lele atau gabus dengan mudah di dapat di danau di tepi ume.

Namun ikan laut, itu adalah makanan elit yang tak pernah ku makan di usia balita. Aku masih mengingat dengan jelas, kapan aku pertama kali makan ikan tongkol.

Itu adalah di acara kendurian sepupuku yang ibunya adalah seorang pedagang, hingga cukup berada. Makan siang sehari sebelum hari H syukuran sunatan sepupuku itu, ada ikan tongkol goreng yang dihidangkan.

Aku sangat senang, karena ada ikan yang belum pernah ku makan. aku benar-benar menikmati rasa ikan laut itu, hingga aku mengambil satu lagi ikannya. Aku menceritakan rasa ikan itu pada temanku, “Ikan itu rasanya seperti hati ayam, enak sekali,” ucapku bersemangat.

Alhamdulillah, di usia SMA ikan laut bukan lagi barang yang mahal dan ibuku telah sering bisa membelinya.

Daging yang Berlimpah

Daging sapi memang makanan orang kaya di masa kecilku. Seingatku, hanya di momen lebaran iedul adha kami bisa makan daging sapi, karena mendapat daging kurban.

Tapi memakan daging selain sapi, itu bukanlah hal yang harus dibeli dengan uang, karena bisa didapat dengan berburu. Beberapa daging yang sering ku makan di usia kecil antara lain adalah:

  • Burung Punai – ini adalah burung yang dagingnya tebal dan empuk. Sangat nikmat karena dagingnya terasa harum. Kata Bapak ku, itu karena burung punai hanya memakan buah tertentu, semisal buah pohon beringin, buah pohon salam dan lainnya.
  • Tupai Besar – tupai besar juga adalah sumber daging yang banyak tersedia di hutan. Bapak ku menyebutnya “Tangkeradok”. tupai itu berukuran hampir seperti kucing yang gemuk. Dagingnya juga terasa wangi dan gurih. Karena tupai jenis ini hanya memakan buah-buahan yang paripurna.
  • Kancil – kancil adalah hewan pavorit Bapakku, karena rasa dagingnya khas. Jenis yang agak besar disebut “Napo”, dagingnya banyak karena ukuran tubuhnya yang hingga sebesar anjing.
  • Ikan – Ikan lele, gabus, toman dan ikan putihan kecil dengan mudah ditangkap di sungai atau danau.

Mungkin makanan protein yang baik dari hutan itu juga berperan membantu pertumbuhan otak ku, walau keluarga kami kurang berada hingga tak bisa membeli daging dari pasar.

Mainan yang Megah

Mobilan Kayu buatan Bapak

Aku hanya bisa gigit jari melihat mainan tetangga atau sepupuku yang canggih dan bagus, semisal mobil-mobilan dengan remot berkabel, mobilan truk yang bentuknya seperti truk beneran, robot-robotan yang bisa berjalan sendiri dan lainnya.

Di usiaku sekitar 5 tahun, Bapak membuatkan aku sebuah mobilan dari balok kayu yang dia ukir seperti mobil pikap Toyota Kijang. Bapak cukup terampil, ukirannya halus dan detailnya rapi. Sayangnya Bapak tidak membuatkan roda untuk mobilan itu. sehingga walau kupasang tali untuk menariknya, tetap saja mobilan kayu itu tidak sama seperti mobilan pada umumnya.

Aku sangat menyayangi mobilan balok kayu itu. kubawa kemana-mana. Kupamerkan pada teman-temanku. Terkadang aku membuatkannya roda dari tanah liat, agar seperti mobilan yang normal.

Di masa kini, mengingat mobilan spesial itu terkadang membuatku meneteskan air mata, karena membayangkan kasih sayang Bapak padaku. Dia berusaha semampunya membahagiakan anaknya, walau tidak mampu membelikan mainan yang mewah.

Alhamdulillah, di lain waktu di momen lebaran, Bapak bisa membelikan aku mobilan yang bisa berjalan melingkar sendiri, setelah pegasnya diputar. Sedangkan adik perempuanku dibelikan pistolan air. Aku membayangkan kebahagiaan Bapak yang bisa membelikan kami mainan saat lebaran. Masih kuingat senyum sumringah dari wajah kurusnya melihat kami bermain dengan mainan baru itu.

Mencari Mainan di Tempat Sampah

Di usia SD, ada beberapa karyawan Pertamina di sekitar rumahku, sehingga anak-anak mereka sering dibelikan mainan yang mahal. Saat mainan-mainan itu telah rusak, biasanya mereka buang ke tempat sampah yang berada di belakang rumah kami.

Saat mereka membuang sampah kering yang banyak, kami menyerbu ke tempat sampah. Kakak perempuanku terkadan mendapat boneka, aku mendapat mobilan atau robot-robotan yang telah rusak, dan lain sebagainya.

Mengetahui hal itu, Bapakku sangat marah. “Walau kita miskin, jangan memulung barang bekas orang lain“.

Harga diri Bapak ku sungguh lah tinggi. Kami dilarang keras merendahkan martabat diri sendiri dengan melakukan hal-hal yang rendahan. Semisal menumpang makan di rumah orang, memulung di tempat sampah, meminta-minta uang pada kerabat atau menumpang nonton TV di rumah orang dalam waktu lama. Didikan yang keras itu membuat kami punya rasa malu untuk minta-minta dan pride yang juga tinggi.

Pistolan Bekas yang Mahal

Di Usia SD, saat momen lebaran biasanya aku diberi uang jajan yang lumayan, apalagi nenek dan beberapa paman biasanya juga memberi uang hadiah lebaran. Sehingga aku bisa membeli mainan.

Agar uangnya utuh untuk membeli mainan, aku dan sepupu biasanya akan berjalan kami ke pasar yang jaraknya sekitar 5 km. Agar kami tidak perlu membayar ongkos angkot.

Di suatu siang, aku ke rumah nenek yang kemudian diberinya uang dan baju baru berwarna merah. Dari rumah nenek, aku berangkat ke pasar dengan sepupuku. Baju baru itu kubawa dengan kantong plastik.

Saat membeli pistol-pistolan, aku naksir dengan pistolan yang lumayan besar. Namun harganya Rp 7000. Sedangkan uangku hanya Rp 4000. Sang penjual tak kehabisan akal, dia menawarkan pistolan bekas dan disebutnya sama saja dengan yang baru, msaih bagus. Aku boleh memilikinya dengan harga Rp 4000 itu.

Aku senang, merasa bisa mendapat pistolan bagus dengan harga murah. Saking senangnya, baju baru pemberian nenek ketinggalan di tempat jualan mainan itu. Aku baru ingat baju itu setelah sampai di rumah.

Celakanya, ternyata hanya beberapa hari dipakai, pistolan bekas itu rusak dan tidak bisa berfungsi lagi. Sehingga aku sangat menyesal telah tergoda rayuan penjual mainan itu.

Pistolan bekas itu jadi berkali-kali lipat lebih mahal, karena uang Rp 4000 dan baju pemberian nenek hilang hanya untuk mainan bekas yang cepat rusak. Dari kejadian itu, aku menjadi kapok membeli barang bekas, walau masih terlihat bagus.

Mainan Karya Sendiri

Jangankan untuk membeli mainan, untuk jajan makanan di jam sekolah pun kami sangat jarang dapatkan. Sehingga untuk mainan, di usia SD aku bersama teman-teman lebih banyak membuat sendiri mainan dan lebih banyak bermain dengan permainan berkelompok tanpa peralatan mahal.

Benerapa mainan sering kami buat sendiri, antara lain:

  • Mobil-mobilan dari bahan bangunan bekas – Jika ada rumah yang sedang dibangun, kami mengambil bahan-bahan sisa yang telah dibuang di tempat sampah, semisal potongan papan, dan triplex. Kemudian kami rangkai menjadi mobil-mobilan. Model Toyota Kijang pikap selalu jadi mobil favoritku.
  • Batre bekas – batre senter bekas adalah bahan as dan roda mobilan mini yang kami rangkai sendiri.
  • Gasing – membuat gasing kayu adalah hal menyenangkan, karena ada unsur estetika dari karta khas masing-masing. Aku selalu membuat gasing berbentuk gemuk agak pipih, sedangkan temanku membuat yang lebih kurus dan panjang.
  • Enggrang – Bermain enggrang membuat kami memiliki kendaraan karya sendiri. Masing-masing kami membuat enggrang sendiri, kemudian berkeliling kampung tanpa menginjak tanah. Itu sangat menyenangkan.
  • dan lain sebagainya.

Interaksi dengan Uang

Uang Jajan saat Sekolah

Kami sangat jarang diberi uang jajan. Namun aku tidak pernah protes pada orang tuaku, mengapa aku tak ada uang jajan, walau teman-temanku selalu jajan makanan di jam istirahat.

Hal itu terjadi karena aku telah tahu sejak kecil, bahwa orang tuaku sangat susah ekonominya. Sehingga aku malu meminta uang jajan. Jika pun diberi uang jajan, yang biasanya di hari tertentu dimana ada jam pelajaran olah raga, sebagiannya ku masukkan ke celengan bambu.

Karena saat SD, jika haus atau lapar, aku bisa pulang ke rumah di jam istirahat. Karena jarak sekolah dengan rumah hanya sekitar 300 meter. Tapi saat SMP, aku biasanya mendapat uang jajan seminggu sekali.

Di usia SMA, kebanyakan aku hanya mendapat jatah uang ongkos untuk naik angkot. Tidak ada uang jajan untuk membeli makanan seperti kebanyakan teman-temanku.

Namun kebaikan beberapa teman yang bersekolah dengan sepeda motor, sering mengantarku pulang sekolah, sehingga uang ongkos angkotku sebagiannya bisa untuk jajan makanan di hari ada pelajaran olah raga.

Mengais Rupiah

Uang tetaplah menggoda untuk dimiliki. Sehingga di usia SD aku dan teman-teman sepermainan sudah berusaha mencari uang. Beberapa aktifitas mengais uang telah kujalani di usia kecil, antara lain:

Jadi Pemulung Besi Tua

Di sela-sela waktu bermain, di sore hari kami sering mencari besi tua dengan berkeliling kampung. Jika ada rumah yang sedang dibangun, itu adalah spot yang menggembirakan. Karena bekas potongan behel, paku-paku yang telah membengkok tak bisa dipakai lagi, kawat bekas yang telah kusut, akan menjadi rebutan kami.

Bahkan tempat sampah juga tak luput jadi tempat kami berburu besi atau plastik bekas. Saat itu, besi tua diharga Rp 90 per kilogram. Sebagai perbandingan, harga semangkok bakso di tahun 1990 adalah sekitar Rp 200.

Menambang Pasir

Memulung besi tua tidak begitu banyak hasilnya, karena tidak banyak besi tua yang bisa ditemukan di kampung yang relatif bersih. Salah satu aktifitas yang lebih menarik adalah menambang pasir di kali. Satu kaleng (sekitar 16 liter) pasir dihargai lebih mahal dari 1 kg besi tua.

Hanya saja aktifitas menambang pasir lebih melelahkan, karena harus berendam di air seharian. Namun kami menjalaninya dengan riang gembira.

Menjual Kayu Bakar

Aktifitas mengais rejeki menjadi hal yang kami jalani sebagai bagian dari permainan masa kecil. Mencari dan menjual kayu bakar pun menjadi salah satunya. Aku mengikuti aktifitas ini bersama kakak sepupu yang tinggal di rumahku di usia SMP-nya. Uangnya cukup menggiurkan, karena tetangga yang membeli kayu bakar itu memberi uang lumayan.

Namun aktifitas kami menjual kayu bakar terhenti, karena nenek begitu marak pada kakak sepupuku setelah mengetahuinya. Karena menurut nenek, aktifitas kami semestinya banyak belajar, bukan mencari uang dengan cara-cara orang lama yang tidak cerdas. Karena jika lebih fokus mencari uang demikian, nanti terlanjur menyukai uang, dan tidak punya semangat lagi untuk sekolah.

Berjualan Kue

Selepas sholat subuh, aku dan kakak sepupuku mengikuti aktifitas menjual kue untuk sarapan. Kami diserahi nampan berisi kue sekitar 25 hingga 40 buah.

Kami akan mendapatkan komisi sebesar 10% dari penjualan kue tersebut. Sangat kecil, tapi itu sangat berharga karena dilakukan dalam waktu singkat setiap harinya.

Jika laku 25 buah, kami akan mendapatkan uang Rp 250, lalu aku mendapatkan bagian Rp 50 saja. Uang itu kukumpulkan di celengan bambu.

Permainan Anak Kampung

Membahas permainan anak-anak di tahun 80 hingga 90an tak akan ada habisnya. Karena hampir semua permainan adalah tentang bekerjasama, permainan kelompok, berlari, berenang, bercengkrama dan gerakan fisik yang menguras energi. Berikut beberapa permainan anak kampung yang berkesan di masa kecilku.

Bergulat dan Lompat Indah – Bermain di kali adalah kesenangan yang tiap hari kami lakukan. Bahkan di hari libur, bahkan kami bisa menghabiskan waktu hingga setengah hari. Permainan di kali adalam bermain gulat-gulatan, perang-perangan dengan saling lempar tanah liat, lomba berenang, lomba menyelam, hingga lompat indah dari pohon di pinggir kali. Kami seperti berang-berang yang hingga badan licin hitam mengkilat, karena sering berlumur lumpur dan jarang kena sabun.

Daud vs Goliat – Ada seorang remaja yang suka bermain dengan kami yang masih anak-anak, namanya ‘Muli’, tubuhnya gempal besar dan tinggi. Dia selalu mengaja kami bermain perang-perangan dengan bergulat, dia sendirian melawan pasukan kami yang belasan orang. Jika salah satu dari kami tertangkap, dia akan menyiksa orang tersebut dengan menenggelamkannya, tapi pasukan kami tak akan membiarkan itu terjadi, kami mengeroyoknya seperti gerombolan Haina yang melawan seekor singa jantan. Itu seperti pertempuran antara Goliat versus Daud yang ramai.

Membolang Setiap Hari – di usia SMP, hobiku sedikit berubah dari permainan berkelompok menjadi kegiatan individual. Aku tidak lagi suka permainan berkelompok. Kegiatan memancing ikan dan berburu burung menjadi hobiku. Hampir setiap hari aku pergi ke hutan, membawa pancing atau senapan angin. Intinya adalah mencari daging untuk disantap. Burung punai adalah buruan terhebat yang kucari di semak belukar rawa-rawa. Tupai adalah incaran selain burung yang dagingnya lumayan banyak.

Pakaian Terbaik

Bajuku Hampir Transparan – Saat sekolah, aku selalu suka memakai baju lama walau sudah dibelikan baju baru di setiap awal tahun pelajaran. Baju tersebut terus kupakai hingga warna putihnya jadi kekuningan dan jadi tipis hingga hampir transparan. Bahkan di SMA, baju tipis itu koyak besar karena ditarik teman saat bermain bola.

Sepatuku Lapar – Sepatu adalah barang mahal dan belum tentu tiap tahun aku dibelikan sepatu baru. Sehingga sangat sering sepatu itu telah rusak parah, tapi masih kupakai. Bagian telapak di depan sangat sering telah menganga, dan kaos kakiku yang kumal terlihat saat aku berjalan. Seorang teman bernama Yunus berkata padaku, “kasian sepatumu, sepertinya dia lapar, karena setiap kamu berjalan dia seperti minta makan“. Aku tertawa kecut mendengar sindiran itu.

Membantu Orang Tua

Sepeda Butut yang Perkasa

Sejak aku SD kelas 5, Bapak sudah bisa membeli sepeda sebagai kendaraan sehari-hari ke kebun. Saat aku SMP bahkan Bapak telah bisa membeli lebih dari satu sepeda, sehingga ada 3 sepeda. Setiap hari libur, kegiatan wajibku adalah membantu menyadap karet. Dini hari setelah subuh, kami telah keluar menggayuh sepeda sekitar 10 km, sehingga saat masih gelap, kami sudah sampai di kebun.

Aku memiliki target sendiri dengan sepeda itu, yaitu tidak boleh menginjakkan kaki ke tanah sejak menaik sepeda hingga sampai di kebun, walau jalan kekebun itu seperti mendaki gunung menuruni lembah. Sehingga sekuat tenaga aku mendaki tebing yang terjal, walau sepeda itu sudah seperti akan berhenti.

Tanganku Busuk setiap hari Senin

Karena kegiatan hari minggu selalu membantu orang tua menyadap karet, maka setiap hari senin tangganku berbau busuk getah karet. Tak jarang sisa karetnya masih menyelip di kuku. berbagai tips menghilangkan bau karet itu kucoba, tapi tetap saja tidak hilang, hingga aku terbiasa.

Bisa dibayangkan seperti apa tampilanku di saat SMP dan SMA dulu. Kulit menghitam gosong karena sering berpanas, pakaian lusuh, rambut keriting besar, dan bau badan seperti getah karet. Lengkap sangat untuk membuat orang tidak betah berada di dekatku.

Terjatuh, Bergumul, Menangis dan Tertawa

Suatu kejadian tak terlupakan, adalah saat aku dan Bapak harus membawa getah karet mendaki tebing yang cukup terjal. Getah karet yang telah dibekukan itu diletakkan di boncengan sepeda, kemudian untuk menyeimbangkan beban, di bagian depan bapak menggantungkan 2 baru bata.

Bapak memegang setir, sedangkan aku mendorong dari belakang. Saat mendaki tebing ternyata penyeimbang beban di depan tidaklah cukup, karena posisi sepeda yang mendaki. Roda depan terangkat tinggi dan aku yang bertubuh kecil tak sanggup menahan beban yang tertumpu ke arah belakang.

Alhasil, kami jatuh ditimpa sepeda dan getah karet itu hingga beberapa meter jumpalitan. Bapak meringis kesakitan. Lalu umpatannya tidak tertahan meluncur dari mulutnya. “Alangkah susahnya hidup kami ya Allah“, matanya berkaca-kaca hendak menangis. Bapak melihat ke wajahku yang kelelahan, lalu dia tertawa, dan aku pun jadi ikut tertawa.

Selepas kejadian itu, saat telah sampai di rumah, Bapak berkata padaku. “Nanti kamu kalau sudah besar, jangan cari rejeki di hutan seperti Bapak, karena sampai pecah urat nadi, uangnya tetap sedikit dan kamu tetaplah akan jadi orang susah. Jangan mau seperti Bapak! Carilah rejeki di khalayak orang banyak, jadilah berguna bagi orang banyak agar hidupmu tidak susah seperti Bapak.

Aku hanya terdiam pesimis mendengar wejangan Bapakku itu. “Akan kah aku bisa jadi orang yang berguna bagi orang banyak? Akan kah aku bisa seperti orang-orang karyawan pertamina itu, yang bekerja dengan memakai seragam putih bersih?” Sementara nilai sekolahku biasa-biasa saja, bahkan mendapat nilai merah di beberapa pelajaran seperti matematika, bahasa inggris dan fisika.

Tukang Gali Lobang

Di usia SMA, tanggal hari menjual karet secara bulanan selalu lebih telat dari tanggal berbagai tagihan yang harus dibayar. Seperti iuran SPP sekolah dan tagihan listrik. Sehingga Bapak terpaksa meminjam uang ke toke tempat dia menjual getah itu setiap bulan. Jadi seperti kasbon, yang nanti akan dibayar dengan memotong hasil penjualan getah karet.

Aku adalah orang yang jadi tukang gali lobang hutang itu, setiap awal bulan aku ke rumah toke getah itu, yang juga masih ada hubungan kerabat dengan Bapak. Jika aku datang, sang uwak langsung bertanya, mau berapa? kusebutkan nominalnya, lalu dengan cepat dia mengambil uangnya.

Beberapa kali dia mengajak aku ngobrol, “Kamu ke sini bersepeda terus, mintalah bapakmu belikan motor. Kamu juga ke sekolah bisa naik motor, kan keren bisa bonceng cewek.” Aku hanya nyengir mendengar nasihat setengah guyonan itu.

Jangankan membeli motor, buat uang sekolah saja kami gali lobang-tutup lobang. Apalagi memikirkan bergaya untuk memikat wanita, itu jauh sekali dari alam pikiranku.

Tak Pernah Ikut Jalan-jalan Sekolah

Di masa sekolah, sering ada kegiatan jalan-jalan satu angkatan, mengunjungi tempat-tempat wisata yang jauh di Lampung hingga ke pulau Jawa. Namun kegiatan itu bersifat tidak wajib, siswa yang tidak mampu membayar biayanya, boleh tidak ikut.

Maka aku adalah siswa yang tidak pernah ikut kegiatan jalan-jalan itu. Aku hanya mendengar cerita keseruan dan melihat foto-foto mereka sepulangnya dari kegiatan itu.

Pernah kusampaikan pada Bapak, bahwa aku ingin ikut acara itu, tapi aku malah kena marah. Karena biayanya sekitar Rp 100.000 per siswa, yang itu adalah jumlah yang tidak sedikit saat itu.

Doktrin dan Ramalan Masa Depan

Doa dari Kakek Muda

Seseorang yang adalah paman Bapakku, tapi seumuran dengan bapak pernah mengajakku ngobrol di momen lebaran, saat aku bersilaturahmi ke rumahnya. Ada kata-katanya yang tidak bisa kulupakan.

Bapakmu sungguh beruntung memiliki anak seperti kamu. Dari kecil bersedia membantu mereka tanpa diupah, tanpa mengeluh. Saya yakin, kelak kamu akan jadi orang yang berguna“.

Setelah kata-kata itu, dia mengeluhkan anak-anaknya yang sulit dimintai bantuan. Dia membandingkan kami, anak-anak Bapak versus anak-anaknya.

Doktrin dari Guru Terbaik

Di kelas 3 SMP, aku mendapat ramalan atau semacam doktrin tentang masa depanku dari seorang guru yang ku kagumi. Dia adalah Bu Murwaningsri, guru mata pelajaran sejarah yang sangat kharismatik.

Guru yang akrab kami sebut Bu Ning itu memintaku membaca penggalan paragraf tentang narasi sejarah. Lalu saat aku belum selesai membaca paragraf itu, dia memintaku berhenti. Kukira ada yang salah dari bacaanku, ternyata dia berorasi dengan kalimat yang tidak terlupakan bagiku.

Kamu camkan kata-kata saya ini! Kamu ingat-ingat nanti saat kamu telah dewasa! Dari caramu membaca, saya yakin kelak kamu akan jadi orang yang berguna. Masa depanmu akan cemerlang. Hidupmu tidak akan susah“, ucap Bu Ning dengan suara lantang dan bersemangat.

Aku meleleh saat mendengar ucapannya. Di masa kini, mengingat kata-kata Bu Ning itu membuat mataku berkaca-kaca dan mengeluarkan air mata. Ternyata dia benar, hidupku tidak pernah benar-benar susah, seperti selalu dimudahkan oleh Allah dalam segala hal, walau bukanlah hidup yang begitu megah atau kaya raya.

Entah beliau seperti meramal, atau sekedar mendoktrin dan menanamkan rasa percaya diri pada muridnya, bahwa kami sebenarnya punya potensi yang luar biasa. Sebagaimana kata-kata mutiara khas yang sering diulang-ulangnya, yaitu: “Pemuda Indonesia, adalah aset yang potensial dan fundamental“.

Wrap up

Demikianlah beberapa penggalan cerita kenangan masa kecil dan masa sekolahku yang berkesan bagiku. Mengenangnya terkadang membuatku ingin menangis, karena mengetahui betapa beratnya kehidupan orang tuaku di masa itu. Tapi itu juga membuatku bersyukur, bahwa kehidupan di masa kini telah jauh lebih baik.

Jika dulu kesengan kami adalah jika bisa makan Indomie sebungkus penuh tanpa dibagi dengan orang lain, di masa kini kami sudah berani bercita-cita membeli mobil mewah atau jalan-jalan ke luar negeri. Walau masih berupa keinginan, itu berarti keinginan kami sudah berbeda dari masa dulu. Keberanian untuk bercita-cita adalah bukti bahwa rasa pesimis tidak lagi mendominasi alam pikiran kami.