Otomotif / Review · September 24, 2021

Mengapa Saya Tak Suka Mobil Wuling? Padahal Canggih dan Murah!

Mengapa saya tidak suka Mobil Wuling

Yabdhi.comApakah kalian tak suka mobil Wuling? Mungkin kita sependapat! – Sejak Juli 2017, Wuling hadir sebagai salah satu pabrikan otomotif yang memproduksi mobilnya di dalam negeri. Pabrikan mobil asal negeri tirai bambu ini menggebrak dengan produk yang luar biasa hingga dapat saya bilang mempermalukan merek Jepang dalam hal kualitas bahan mobilnya dan fitur-fitur canggih.

Bagaimana tidak, karena dengan semua kelebihan produknya, Wuling membanderol harga mobilnya jauh lebih murah dari merek Jepang untuk segmen yang sama. Bahkan harga mobil Wuling rata-rata berada 1 level di bawah segmen sebenarnya.

Misalnya mobil di segmen Medium SUV, dibanderol pada level harga Compact SUV. Sebut saja misalnya Wuling Almaz yang seharusnya bersaing dengan Honda CR-V dibanderol pada level harga Honda HR-V. Padahal dari segi dimensi mobil, kecanggihan fitur, teknologi mesin dan build quality Almaz adalah lawan CR-V.

Itu membuat mobil dari merek Jepang jadi seperti over-priced atau dijual dengan harga yang lebih mahal dari seharusnya. Entah benar demikian, atau sebenarnya itu adalah strategi dagang Wuling untuk merusak standar harga pasar.

Namun uniknya, itu konsisten pada semua segmen mobil Wuling. Misalnya Wuling Confero yang bersaing dengan Avanza, level harganya mampu bersaing dengan Toyota Calya yang merupakan mobil LCGC.

Sebagai penyuka dunia otomotif, saya tentu terkesima dengan gebrakan Wuling tersebut. Apalagi jika menyaksikan Wuling Almaz yang banyak dikagumi para pakar otomotif dari semua sisi. Fiturnya luar biasa canggih, hingga bisa mengoperasikan banyak fitur dengan perintah suara, yang itu baru ada pada mobil dari merek premium Eropa semisal Mercedes-Benz.

Baca: Mengenal Group Raksasa Otomotif yang Menaungi Wuling

Terbesit juga dalam benak saya, mungkin salah satu mobil dari merek ini bisa jadi mobil impinan saya, yang paling mungkin saat ini tentu adalah Wuling Almaz 7-Seater versi tercanggih.

Tapi melihat lebih detail foto-foto mobil-mobil wuling semisal Almaz, Cortez dan Confero baik eksterior dan interiornya, juga melihat langsung tongkrongannya dari dekat saat bertemu mobil ini di parkiran atau saat dipajang di Mall. Saya tidak merasakan faktor WOW yang membuat saya berkeinginan memilikinya. Ini sama yang saya rasakan saat melihat Toyota Avanza, Toyota Innova, Toyota Fortuner, dan Mitsubishi Pajero Sport.

Wuling Cortez 1.5 atau Confero S
Wuling Cortez dan Confero – MPV Canggih dan Murah dibanding Kompetitornya

Itu berbeda yang saya rasakan ketika melihat beberapa mobil semisal Honda CR-V, Hyundai Santa Fe, Toyota Corolla Cross, Hyundai Palisade, Mazda CX-30, dan Mercedes-Benz GLE atau GLS. Ada hasrat dengan kalimat “If only I had enough money, maybe I will buy one of them“.

Jawabannya ternyata bahwa faktor utama adalah freferensi selera terhadap bentuk desainnya. Faktor kedua adalah pernyataan beberapa reviewer pakar otomotif yang meyebutkan bahwa konsumsi bahan bakar mobil Wuling tergolong masih boros dan pengendalian mobil Wuling tidak begitu menyenangkan jika dibanding mobil dari merek berbeda pada segmen yang sama.

Jadi fitur-fitur yang bombastis di mobil Wuling pada akhirnya tidak berhasil menggoda selera saya terhadap bentuk desainnya. Apakah itu artinya saya masih sangat terpengaruh dengan bentuk desain mobil? jika tidak mempertimbangkan harga, mungkin itu benar. Pada akhirnya tetap budget yang menjadi penentu keputusan saat akan membeli mobil.

Lalu apakah saya anti Wuling dan pecinta buta merek Jepang dan Korea? Saya fikir itu tidak benar, karena selera bisa saja berubah, atau mungkin ke depan ada model Wuling yang cocok dengan selera saya. Who knows?

Hal yang saya tidak suka dari model-model Wuling adalah bentuk mobilnya. misalnya Wuling Cortez, ini benar-benar mobil yang tidak sesuai selera saya dalam hal bentuk keseluruhan maupun detailnya. Terlalu boxy dan sangat tradisional layaknya mobil kargo untuk dijadikan mobil keluarga.

Lalu Wuling Almaz, saya pikir ini analog saat saya melihat Toyota Fortuner yang terlalu jangkung. Tapi Saya masih bisa suka Fortuner dibanding Almaz dari bentuknya. Hal yang paling saya tidak suka adalah bagian pintu belakangnya yang semua lampu berada di pintu bagasi, ini juga terjadi pada Wuling Cortez. Menurut saya, itu desain yang tak sedap dipandang.

Yang kedua adalah proporsi roda Almaz yang nampak kekecilan, itu membuat mobil ini nampak cingkrang. apalagi model 7-seater smart dengan velg alloy single tone. Setelah melihat mobil ini dari dekat, proporsi rodanya benar-benar merusak kesan gagahnya.

Wuling Almaz Tampak Belakang
Wuling Almaz tampak Belakang dan Samping

Ini sekedar pengungkapan pendapat pribadi tentang mengapa saya tak suka mobil Wuling, tentu pendapat ini sangat subjektif. Bisa banyak yang sependapat atau berbeda, tergantung freferensi selera atau poin utama yang dijadikan penilaian terhadap mobil.

Pendapat saya mungkin berubah jika sudah menggunakan mobil Wuling dalam waktu lama semisal dipinjami dalam beberapa bulan atau mendapat hadiah lotre hingga mau tidak mau harus dinikmati. Namun untuk membelinya, saya kira saya masih sulit untuk merasa cocok.

Namun siapalah saya! Jika Sobat merasa tidak sependapat dengan saya, abaikan saja tulisan ini. Karena saya bukanlah orang penting sama sekali di dunia otomotif. Ini sekedar curhat mengungkapkan pendapat pribadi tentang mobil Wuling yang menggoda dalam hal banderol harga, namun masih banyak “tapi” dalam benak saya untuk merencanakan memilikinya di masa depan.

Terlepas dari pendapat pribadi saya tersebut, tentu kehadiran Wuling patut diapresiasi untuk dunia otomotif Indonesia. Karena gebrakannya membuat mobil berkualitas tinggi dengan fitur-fitur canggih dan mewah, namun berharga jauh lebih murah, akan membuat persaingan para pabrikan otomotif di Indonesia makin seru. Pabrikan Jepang harus berbenah dan meningkatkan kualitas serta fitur mobilnya jika tidak ingin ditenggelamkan oleh Wuling.