Mengenang Bu Murwaningsri, Guru yang Menjadi Inspirasi di SMP Negeri 3 Prabumulih (1994-1997)

Gambar Guru berhijab - ilustrasi

Yabdhi.comMengenang Guru Terbaik dalam Sejarah Hidupku, Guru yang Menjadi Inspirasi – Di setiap sekolah yang kita lalui masa belajar disana, umumnya setiap siswa punya guru yang spesial berkesan di hati mereka, begitupun aku.

Dari sekian banyak guru yang kutemui, yang paling berkesan adalah sosok guru Sejarah di SMP-ku, yakni SMP Negeri 3 Prabumulih, Sumatera Selatan pada rentang waktu tahun 1994 hingga 1997.

Guru yang menjadi Inspirasi itu adalah Bu Murwaningsri, yang akrab kami panggil “Bu Ning”. Dia adalah guru senior yang telah berhijab lebar, saat hijab belum jamak di kalangan wanita Indonesia saat itu.

Jika Ikal di film ‘Laskar Pelangi’ punya Pak Harfan yang menginspirasi siswanya, maka kami punya Bu Ning yang merupakan sosok inspirator, orator, role model, penjaga moral dan sangat naratif menggambarkan heroisme para pahlawan.

Sosok Bu Ning, Tak Cukup Kata Mendeskripsikan Kemuliaan Beliau

Sosoknya seperti ibu yang bijak bestari, tegas dan garang, namun sikapnya pada setiap siswa sangat lah lembut, mengenal personal murid-muridnya satu per satu dan senantiasa menggali untuk mengetahui bakat setiap siswanya.

Kami segan dan hormat luar biasa padanya, tapi bisa merasa nyaman saat dia mengajak kami bicara secara dekat. Dia memberi perhatian pada siswanya dan mendoktrin kami, bahwa tiap kami punya bakat dan keahlian yang jika dikembangkan akan menjadi bekal menapaki masa depan.

Tak hanya dihormati dan disegani kalangan siswa, di kalangan sesama guru, ia juga sangat disegani. Dia tak segan memarahi guru lain yang melakukan hal yang menurutnya di luar batas dan membahayakan karakter siswa.

Seorang guru yang menorehkan kenangan manis di setiap ucapannya. Mendeskripsikan heroisme, dan kegagahan para pahlawan, serta kemegahan sejarah bangsa Indonesia di masa lalu.

Dia tegak berdiri menjadi penjaga moral, memberi tauladan dengan melakukan apa yang dia ucapkan, berani untuk tidak berkompromi dengan budaya yang rusak.

Bu Ning lembut dalam tutur kata, tapi membuat kami tak berani mencela atau membantah kebenaran argumentasinya karena kharismanya.

Dia tidak menghukum dengan pukulan, tapi kata-katanya tertancap dalam di sanubari, hingga tak terlupakan.

Aku tak pernah mendapati guru yang demikian di SD, SMA hingga Universitas tempatku belajar. Bu Ning adalah cahaya penunjuk yang membuat aku melihat masa depanku. Dia satu-satunya guru yang menjadi inspirasi bahwa kami harus memikirkan masa depan yang gemilang.

Aku tak dapat lupa pada banyak momen saat dia mengajar, gaya jalannya yang seperti seorang jendral, dan lantang kata-kata orasinya saat Beliau menjadi pembina upacara.

Kata-kata beliau yang paling populer di kalangan siswa: “Pemuda Indonesia adalah Aset yang Potensial dan Fundamental. Kata-kata itu menjadi ikon Bu Ning, hingga terkadang menjadi percandaan kami, jika dia sudah naik panggung pembina upacara.

SMP Negeri 3 Prabumulih, Sumatera Selatan - Dulu dan Kini
SMP Negeri 3 Prabumulih, Sumatera Selatan – Dulu dan Kini

Pertemuan Pertama

Di minggu pertama memasuki SMP, di zaman orba ada fase Penataran siswa. Salah satu materi penataran itu adalah “Wawasan Wiyata Mandala” yang di kelasku dibawakan oleh Bu Ning, yakni tentang budaya belajar di sekolah, bagaimana tata tertip dan sopan santun dalam proses belajar.

Itu adalah interaksi pertama aku dengan Bu Ning. Dia langsung menorehkan kenangan yang tak dapat kulupakan secara personal.

Setelah menjelaskan tentang budaya belajar di sekolah, dia meminta kami untuk melakukan praktek memulai proses belajar. Lalu dia memilih beberapa siswa untuk dijadikan model ketua kelas dan guru.

Aku tidak tahu, mungkin dia melihat aku sebagai sosok anak yang unik, karena tubuhku sangat kecil, kurus dan lugu. Dia berkata “hei kamu, kamu maju ke depan, kamu jadi guru”, telunjuknya tertuju padaku.

Aku tak percaya jika dia menunjuk padaku, sehingga aku menoleh ke belakang dengan harapan bahwa dia sebenarnya menunjuk teman di belakangku.

Bu Ning berkata: “Iya, kamu yang kecil, sini maju nak”, aku grogi dan menjadi kikuk karena sangat malu. Kemudian aku diminta untuk berpura-pura jadi guru, masuk ke kelas mengucapkan salam dan berjalan ke meja guru.

Sesampai di meja guru, aku langsung duduk. “Eh.. lah kok duduk, jangan duduk dulu pak guru. anak muridmu mau mengucapkan salam dulu.” Bu Ning memintaku berdiri lagi.

Saat teman-teman mengucapkan, “Selamat pagi Pak Guru“, aku bingung dan hanya diam. Kelas jadi sunyi, dan Bu Ning berkata: “Pak Gurunya kok ndelok-ndelok wae, dijawab dong, Selamat pagi murid-murid.” Lalu gemuruh tawa teman-teman pecah mentertawakan sikapku yang lugu dan kebingungan.

Proses latihan itu diulang, hingga semua berjalan lancar. Namun kejadian itu membuat ku cukup lama mendapat julukan “Ndelok-ndelok wae” dari teman-teman baruku di sekolah itu.

Menancapkan Doktrin Bahwa Masa Depanku akan Gemilang

Wejangan Bu Murwaningsri yang paling berkesan adalah saat aku dimintanya membaca beberapa paragraf dari buku pelajaran sejarah di kelas. Lalu tiba-tiba Beliau memintaku berhenti membaca, dan Beliau berorasi:

“Kamu camkan kata-kata saya ini, dari caramu membaca, saya yakin kelak kamu tidak akan menjadi orang yang biasa-biasa saja. Kamu akan menjadi orang yang berguna. Hidupmu tidak akan susah!”

Bu Ning tidak segan mengakui kegagumannya pada siswa, dengan tulus dan sumringah Beliau mengatakan: “Saya pengagum kamu!”. Aku merasa menjadi siswa yang spesial di matanya karena kata-kata itu.

Dia mengucapkan itu sambil menatap lekat ke mataku dengan senyum sumringah seolah-olah seorang ibu yang bangga pada anak kandungnya. Jantungku berdebar dan otakku merekam momen itu dengan detail.

Mungkin teman-teman sekelasku tidak akan mengingatnya, tapi aku tidak akan pernah melupakan momen itu. Dia satu-satunya guru yang mengucapkan doktrin seperti itu padaku.

Dalam hati aku berkata, “benarkah demikian? aku kan cuma anak kampung, mengapa Bu Ning begitu yakin bahwa masa depanku akan cemerlang. Ah.. Bu Ning suka melebih-lebihkan”.

Namun momen itu memberiku energi untuk jadi percaya diri dan menyadari bahwa aku punya kemampuan dan kecerdasan yang akan berguna di masa depanku.

Mengenali Bakat dan Memberi Saran

Suatu siang di jam istirahat, saat kelas 3 SMP, semua siswa sibuk dengan kesenangan mereka masing-masing. Aku dan seorang teman yang bernama Holidiansyah, bersenang-sengan dengan mencoret-coret papan tulis dengan kapur tulis.

Temanku menggambar kartun Saint Seiya, sedangkan aku menggambar kerbau sawah. Keasyikan menggambar di papan tulis, lonceng tanda akhir jam istirahat pun berbunyi. Kami berusaha menghapus gambar itu, namun terlambat, karena saat lonceng berbunyi, Bu Ning telah sampai di kelas untuk memulai pelajaran Sejarah. Begitulah Bu Ning yang sangat menghargai waktu.

Mendengar salam dari Bu Ning kami berlarian ke kursi masing-masing. Bu Ning memandangi gambar yang kami buat, lalu dia bertanya, “Siapa yang menggambar ini?“.

Serentak teman-teman menunjuk aku dan temanku itu. Lalu kami disuruh maju berdiri di depan. Aku ketakutan karena kusangka akan kena marah, karena kami menghabiskan kapur tulis untuk hal yang tidak ada kaitannya dengan pelajaran.

Tak kusangka, Bu Ning bertepuk tangan sambil berkata dengan senyum lebar khasnya, “Kalian adalah anak-anak yang berbakat.

Siapa yang menggambar kartun ini?” teman-teman menjawab dengan nama teman di sebelahku. “Kamu beraliran kartunis, terus asah bakat kamu, siapa tahu itu berguna di masa depan“.

Jadi yang menggambar kerbau ini kamu?” Tanya Bu Ning padaku, aku mengangguk saja. Lalu dia berkata, “Kamu beraliran naturalis. Kamu seperti Basuki Abdullah yang suka menggambar alam“.

Membanggakan kami di depan guru-guru lain

Karena kejadian itu, kami beberapa kali dipanggilnya ke kantor guru, lalu dia mengumumkan pada guru-guru lain bahwa 2 orang siswa ini punya bakat terpendam. Dia membanggakan kami di depan guru-guru lain, walau kuperhatikan guru-guru lain sepertinya tidak menanggapi serius pujian Bu Ning itu.

Bu Ning lalu menyarankan kami, “Coba nanti jika sudah tamat SMA, kamu berdua cari peluang untuk kuliah di Akademi Seni Rupa. Atau kalian mungkin bisa saja mendapat bea siswa. Kembangkan bakat itu agar bermamfaat di masa depan.

Kami hanya mengangguk-angguk sambil malu-malu. Lalu kami dipersilahkan kembali ke kelas, dan Beliau memandangi kami dengan senyum lebar khasnya.

Penjaga Moral dan Pembenci Budaya yang Buruk

Bu Ning adalah sosok yang sangat idealis. Dia memberi tauladan pada sikap yang santun dan lembut, tapi juga garang pada budaya rusak yang berkembang di masyarakat.

Pernah seorang guru mendukung acara perayaan ulang tahun seorang siswa dengan cara bully, yaitu dengan dilempar telur dan cairan tepung berwarna-warni. Budaya itu cukup jamak di zamanku SMP hingga sering terjadi dan dianggap biasa.

Bu Ning sangat marah dengan kejadian itu, dia mendatangi kerumunan yang sedang asyik membully salah seorang siswa yang berulang tahun di hari itu. Bu Ning berteriak keras “Tidak Beradab!” ucapnya lantang.

Tinggalkan budaya buruk tak beradab ini! Kalian adalah masa depan bangsa ini, jangan rusak akhlak kalian dengan budaya ini.

Seketika semua diam dan melarikan diri, termasuk seorang guru yang mengikuti ritual ulang tahun itu.

Yang kami dengar, Bu Ning sangat marah pada guru lain yang mendukung acara itu, walau guru itu adalah seorang guru senior juga. Namun kesopanan Bu Ning adalah tidak memarahi guru itu di depan kami.

Mengenalkanku pada Cinta Pertama

Saat aku mulai ingin memahami rasa cinta pada lawan jenis dengan membaca novel-novel percintaan di Perpustakaan sekolah, semisal kisah “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Sengsara Membawa Nikmat“, Bu Ning menjadi orang yang mengenalkan aku pada sosok yang kukagumi keanggunan dan kecantikannya, hingga gadis itu menjadi cinta pertamaku.

Di suatu siang, tahun 1996 saat aku kelas 2 SMP, Bu Ning menggabungkan kelasku dengan kelas lain untuk mata pelajaran Sejarah karena alasan tertentu yang tak dapat kuingat.

Saat akan memulai pelajaran, Bu Ning menyapa kami dan matanya terhenti pada sosok gadis cantik berkulit putih dengan rambut lurus hitam kekuningan, lalu berkata: “Sepertinya ada yang baru potong rambut, duuuuh ndok cantiknya kamu. Kamu cantiiik sekalii“.

Bu Ning mengatakan itu sambil tersenyum lebar memandang keindahan gadis itu. Gadis itu seketika jadi pusat perhatian, dan aku adalah yang terkesima dengan kecantikan itu.

Masih kuingat rambutnya saat itu sebahu karena baru dipotong seperti yang Bu Ning katakan. Rambutnya lurus dan melengkung ke dalam di ujung-ujungnya. Wajahnya panjang, alisnya tipis, matanya besar, dan bibirnya agak tebal berwarna merah muda. Kulitnya putih kemerahan dan pipinya padat berisi.

Aku berkata dalam hati, “Inilah gadis tercantik di dunia, seperti putri kerajaan di dongeng-dongen Eropa. Dia memang cantik sekali.” Jika dibayangkan saat ini, dia seperti Kate Winslet yang memerankan karakter Rose di Film Titanic di tahun 1997.

Kate Winslet di Tahun 90an
Kate Winslet di Tahun 90an

Kejadian itu berlangsung tak lama dari saat aku membaca bagian awal novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Buya Hamka, yang mengisahkan bagaimana proses perkenalan dan drama pernyataan cinta Zainuddin dan Hayati.

Hingga benakku berkata: “Jika aku Zainuddin, apakah gadis itu Hayati-nya?“. alangkah senangnya aku, jika kelak berjodoh dengan dia.

Ada banyak gadis cantik di sekolahku saat itu, tapi baru kali itu aku mengagumi anak perempuan yang cantik, karena pujian yang diberikan Bu Ning padanya.

Saat iring-iringan pulang sekolah, aku sering mencari-cari sosok gadis berambut hitam kekuningan itu, jika aku menemukannya, aku berusaha mendahuluinya, agar aku bisa melihat wajah cantiknya.

Aku menjadi pengagum rahasianya di SMP dan kami ditakdirkan sekolah di SMA yang sama, hingga sejarah cinta pertamaku adalah tentang gadis itu. Kisah itu kutulis lengkap di artikel sebelumnya: Kisah Cinta Pertamaku.


Penutup

Itulah guru terbaik yang pernah kutemui di usia sekolahku. Aku tidak mendengar kabarnya dengan jelas hingga kini. Yang kudengar Beliau telah meninggal, namun aku tidak tahu kapan tepatnya Beliau meninggal.

Semoga Semua amal pahalanya mendapat balasan terbaik dari sisi Allah, dan semua dosa-dosanya diampuni. Semoga beliau sedang memandangi surga di alam kuburnya saat kisah ini kutulis.

Dia sosok yang tidak hanya berperan sebagai guru yang mengajarkan ilmu di buku secara tekstual, tapi juga mengajarkan moral dengan menjadi tauladan. Setiap kata-katanya menancap dalam di sanubari, hingga tak terlupakan.

Ada terlalu banyak kata untuk menggambarkan Bu Murwaningsri.

  • Role model, dalam hal kesantunan dan integritas.
  • The moral keeper.
  • Inspirator, yang mengajak siswa membayangkan masa depan mereka.
  • Pembenci budaya hedon yang tidak bermamfaat.
  • Berbicara dengan bahasa yang benar dan lugas.
  • Tegas dan sangat berwibawa.
  • Orator ulung, terkadang ucapannya seperti jendral yang sedang memotivasi tentaranya.
  • Disegani semua guru, karena kharismanya.
  • Sosok Ibu yang mengayomi.

Semoga Indonesia memilik banyak guru-guru seperti Beliau di masa kini. Aku rindu pada sosoknya yang hangat dan membuatku merasa spesial di usia SMP.

Terimakasih banyak Bu Ning atas keindahan masa SMP-ku dimana Engkau menjadi salah seorang yang terbaik yang pernah kutemui dalam hidupku.